Home Makalah Makalah Tertulis MANAJEMEN PELAKSANAAN KURIKULUM MADRASAH

Main Menu

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 879854
MANAJEMEN PELAKSANAAN KURIKULUM MADRASAH PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Saturday, 15 August 2009 02:53
Article Index
MANAJEMEN PELAKSANAAN KURIKULUM MADRASAH
Aspek Kurikulum Yang Perlu Dikembangkan
Ketrampilan Dasar
All Pages


Oleh:
Arief Furchan
 
 


Pendahuluan

    Pentingnya madrasah sebagai lembaga pendidikan dasar dan menengah bagi masa depan ummat Islam di Indonesia kiranya tidak perlu diperdebatkan lagi.  Madrasah, yang sampai saat ini jumlahnya ribuan di seluruh Indonesia, masih tetap menjadi tumpuan harapan sebagian besar ummat Islam yang menginginkan anak-anak mereka ‘berbahagia di dunia dan berbahagia di akhirat’.  Artinya, menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat sekaligus, sesuatu yang, menurut mereka, tidak atau belum dapat diberikan oleh sekolah.

    Namun kenyataan menunjukkan bahwa, dalam banyak hal, banyak madrasah yang kalah bersaing dalam bidang kualitas pendidikan dengan sekolah.  Banyak faktor yang menyebabkan kekalahan dalam persaingan ini, salah satunya adalah pengelolaan pelaksanaan kurikulum.  Topik inilah yang menjadi fokus dari makalah ini.


 
    Makalah ini akan dimulai dengan menunjukkan pentingnya kurikulum bagi kemajuan atau peningkatan kualitas madrasah.  Sesuai dengan kemajuan dalam teori pendidikan yang telah memperkenalkan pendekatan sistem dalam pendidikan, makalah ini kemudian mengajak peserta penataran untuk membahas masalah pendekatan sistem itu dalam pengelolaan kurikulum madrasah.  Selanjutnya, makalah ini akan membahas peranan visi madrasah bagi pengembangan kurikulum.  Terakhir, makalah ini akan membahas beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam mengelola pelaksanaan kurikulum di madrasah.

Pentingnya kurikulum bagi kemajuan madrasah

Kurikulum adalah rencana program pengajaran atau pendidikan yang akan diberikan kepada anak didik untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya.  Ibarat orang yang akan membangun rumah, kurikulum adalah ‘blue print’ atau gambar cetak birunya.  Kurikulum atau program pendidikan inilah yang sebenarnya ditawarkan atau ‘dijual’ oleh suatu lembaga pendidikan kepada masyarakat.  

    Kurikulum sebenarnya mencerminkan jati diri suatu lembaga pendidikan.  Kurikulum itulah yang sebenarnya membedakan antara satu sekolah/madrasah dengan sekolah/madrasah lainnya.  Perbedaan antara SD dan MI dapat dilihat dari kurikulumnya, bukan gedungnya.  Demikian pula perbedaan antara MI dengan Madrasah Diniyah atau pesantren.

      Berbeda dari anggapan umum, kurikulum sebenarnya bukan sekedar daftar mata pelajaran beserta GBPPnya.  Daftar mata pelajaran dan GBPP itu adalah sebagian saja dari kurikulum.  Kurikulum sebenarnya meliputi rencana kegiatan ko- dan ekstra-kurikuler.  Termasuk di dalamnya adalah filosofi pendidikan yang dianut oleh lembaga pendidikan tersebut serta rencana penciptaan lingkungan yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan yang ingin dicapai oleh lembaga pendidikan itu.  Itulah sebabnya ada beberapa warga masyarakat yang lebih tertarik untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah daripada ke sekolah.  Demikian pula sebaliknya.

      Kurikulum untuk madrasah di seluruh Indonesia pada dasarnya adalah sama.  Namun ada madrasah yang dapat menghasilkan lulusan yang bermutu dan ada yang tidak dapat, ada madrasah yang diminati banyak masyarakat dan ada pula yang tidak ‘laku’. Perbedaan ini disebabkan bukan karena perbedaan kurikulumnya melainkan karena perbedaan pelaksanaan kurikulum tersebut.  Ada madrasah yang melaksanakan kurikulum dengan baik sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas dan menjadi madrasah favorit dan ada pula madrasah yang kurang begitu baik pelaksanaan kurikulumnya sehingga lulusannya pun kurang bermutu dan madrasahnya tidak diminati masyarakat.  Menjadi tugas dan tanggung jawab kepala madrasah, sebagai nakhoda madrasah yang bersangkutan, untuk mengembangkan kurikulum di madrasah yang ia pimpin sehingga madrasahnya itu benar-benar dapat memenuhi harapan masyarakat.

Pendidikan Sebagai Suatu Sistem
      
      Untuk memudahkan pemahaman mengenai pengembangan kurikulum di madrasah, ada baiknya kita memandang proses pendidikan sebagai suatu sistem.  Inilah yang sering disebut sebagai 'pendekatan sistem dalam pendidikan’.  Di Indonesia, pendekatan sistem dalam pendidikan ini telah dilakukan sejak tahun 1975 ketika diperkenalkan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI).  Inti dari pendekatan ini adalah pengakuan bahwa, dalam suatu sistem, tujuan sistem merupakan faktor pertama dan utama yang akan menentukan komponen-komponen sistem lainnya.  Jika diterapkan dalam sistem pendidikan, ini berarti bahwa tujuan pendidikan yang akan dicapai itulah yang akan menentukan bagaimana pencapaian tujuan itu akan dievaluasi, kegiatan apa yang perlu diberikan kepada anak didik agar dia dapat mencapai tujuan pendidikan tersebut, bahan apa yang perlu diberikan dan kapan, alat atau sarana apa yang diperlukan, siapa yang akan mendidiknya, dsb.  Prosedur ini berlaku mulai dari unit yang terkecil (pengajaran satu jam di kelas) sampai ke unit program yang terbesar (kurikulum sekolah).
      
      Dalam pendekatan sistem dikenal istilah supra-sistem, sistem, dan sub-sistem.  Supra sistem adalah sistem yang lebih besar yang melingkupi sistem tersebut; sedangkan sub-sistem adalah sistem yang lebih kecil yang berada di dalam sistem yang bersangkutan.  Sebagai contoh, madrasah merupakan suatu sistem yang berada di bawah supra-sistem pendidikan nasional.  Dalam hal ini, madrasah juga memiliki sub-sistem yakni kelas-kelas atau bidang-bidang kegiatan lainnya.  Madrasah sebagai sistem juga menjadi sub-sistem dari masyarakatnya.
      
      Hal penting yang harus diperhatikan adalah adanya kaidah bahwa suatu sistem itu akan tetap eksis selama ia memuaskan supra-sistemnya.  Dalam kasus madrasah, ini berarti bahwa suatu madrasah itu akan tetap eksis selama ia dapat memuaskan harapan masyarakat (supra-sistem) nya.  Apabila masyarakat sebagai supra-sistem sudah mulai merasa bahwa suatu madrasah sudah tidak lagi dapat memuaskan harapan mereka, maka madrasah tersebut akan ditinggalkan oleh masyarakat dan akan mati dengan sendirinya.


Aspek kurikulum yang perlu dikembangkan

    Untuk menentukan aspek kurikulum mana yang perlu dikembangkan, kita perlu tahu terlebih dahulu apa tujuan dari pengembangan kurikulum itu.  Misalnya, kita tetapkan bahwa tujuan pengembangan kurikulum adalah untuk menghasilkan lulusan yang lebih berkualitas agar, dengan demikian, minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah kita semakin meningkat.  Dengan  tujuan seperti itu, selanjutnya kita perlu mengetahui dulu bagaimana minat masyarakat itu: kualitas lulusan yang seperti apakah yang diinginkan oleh mereka?  Dengan mengetahui gambaran kualitas lulusan yang diharapkan masyarakat maka kita akan dapat menentukan rencana bagaimana kita dapat menghasilkan lulusan seperti itu.

    Pada umumnya, para orang tua (dan juga siswa) menginginkan agar anak mereka dapat hidup di dunia ini dengan tidak terlalu susah setelah mereka menyelesaikan pendidikannya.  Untuk itu mereka bersedia menanamkan investasi berupa dana pendidikan yang cukup besar.  Apabila, setelah anak mereka menyelesaikan studi dengan biaya yang cukup besar. ternyata masih juga mengalami kesulitan dalam memperoleh nafkah pastilah mereka akan sangat kecewa.  Untuk sebagian ummat Islam,  keinginan untuk hidup enak di dunia ini ditambah lagi dengan keinginan agar anak mereka juga selamat di akhirat nanti.  Bahkan ada yang lebih mementingkan keselamatan di akhirat ini.  Itulah sebabnya madrasah masih tetap diminati oleh kalangan ummat Islam.  Pertanyaannya adalah ‘mampukan madrasah memuaskan harapan mereka itu?’

    Apabila asumsi tentang aspirasi masyarakat itu benar, maka aspek kurikulum madrasah yang perlu dikembangkan adalah aspek pendidikan pengetahuan umum dan pendidikan agama.  Pendidikan pengetahuan umum di madrasah harus setara dengan pendidikan pengetahuan umum di sekolah yang sederajat (syukur kalau dapat lebih baik) sedangkan pendidikan agama di madrasah, yang merupakan andalannya dalam bersaing dengan sekolah, tentu saja harus lebih baik daripada pendidikan agama di sekolah (tidak boleh sama saja).  Pertanyaannya adalah bagaimana kita mengukur bahwa kurikulum (rencana program pendidikan) kita sudah bagus, baik ditinjau dari segi rencana maupun pelaksanaannya.

    Dari segi rencana, kurikulum kita dapat dianalisis dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat dan prediksi kita tentang kecenderungan arah perubahan masyarakat.  Apabila kurikulum kita secara tertulis (bentuk rencana) sudah mengantisipasi arah perubahan masyarakat dan mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang menjadi target layanan jasa pendidikan kita, maka kita boleh mengatakan bahwa, secara rencana, kurikulum kita itu sudah bagus.  Tentu saja keputusan ini harus diuji dulu dengan kenyataan di lapangan (secara empiris) apakah kurikulum kita itu benar-benar dapat memuaskan aspirasi masyarakat dan benar-benar dapat mengantisipasi perubahan masyarakat.

    Indikator paling mudah bagi keefektifan kurikulum kita secara empiris adalah dengan melihat hasil ebtanas siswa kita.  Bagaimana posisi madrasah kita jika dibandingkan dengan madrasah lain atau sekolah di kawasan itu?  Walaupun ada yang mengatakan bahwa hasil ebtanas tidak dapat dijadikan pegangan karena di situ juga ada rekayasa, namun setidaknya hasil ebtanas masih merupakan indikator yang lebih baik daripada ujian di madrasah atau sekolah itu sendiri.  Indikator kepuasan masyarakat akan layanan pendidikan kita akan tampak dari banyaknya peminat yang ingin mendaftar di madrasah kita dan apakah madrasah kita menjadi pilihan pertama ataukah hanya pilihan cadangan.

Pentingnya visi madrasah dalam pengembangan kurikulum
      
      Berdasarkan pemahaman sistem ini, maka, untuk mengembangkan kurikulum, kepala madrasah harus terlebih dahulu menetapkan sasaran apa yang ingin dicapai oleh madrasahnya.  Karena tujuan suatu proses pendidikan adalah untuk menghasilkan lulusan dengan kualitas tertentu, maka yang harus ditetapkan terlebih dulu adalah kualitas yang bagaimanakah yang ia inginkan dimiliki oleh lulusannya itu.  Dengan kata lain, kita harus sudah memiliki gambaran jelas mengenai profil lulusan yang ingin kita hasilkan sebelum kita dapat mengembangkan kurikulum madrasah.

    Arah pengembangan kurikulum juga dipengaruhi oleh visi pengelola madrasah itu sendiri.  Ada madrasah yang hanya ingin agar lulusannya menjadi pemain lokal dan ada pula yang ingin menjadi pemain nasional atau bahkan internasional.  Artinya, ada madrasah yang sudah cukup bahagia kalau lulusannya dapat bermanfaat bagi masyarakat lokal di desanya.  Tetapi ada pula madrasah yang ingin agar lulusannya dapat berperan menyumbangkan dharma baktinya di tingkat nasional maupun internasional.  Madrasah yang mempunyai cita-cita tinggi ini tentu saja akan melengkapi siswanya dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan yang diramalkan akan berguna bagi peran seperti itu di masa depan.  Di madrasah seperti ini, pengetahuan dan ketrampilan menggunakan komputer, mengolah informasi, dan berbahasa asing akan dianggap penting.

    Dalam kaitannya dengan kecenderungan arah perubahan masyarakat ini, saya ingin Anda melihat hasil penelitian The Secretary’s Comission on Achieving Necessary Skills yang dibentuk oleh the Secretary of Labor (semacam Menteri Tenaga Kerja) dengan tugas untuk menetapkan ketrampilan apa yang diperlukan oleh generasi muda (di AS) agar mereka berhasil dalam dunia kerja.  Tujuannya adalah untuk merangsang tumbuhnya ekonomi yang berprestasi tinggi yang ditunjang oleh ketrampilan tinggi tenaga kerja dan gaji yang tinggi.  Laporan komisi ini diterbitkan pada tahun 1991 dan dapat dilihat dalam lampiran.  Dalam laporan itu disebutkan bahwa tempat kerja (perusahaan) yang ingin menghasilkan produk (jasa atau barang) berkualitas tinggi memerlukan tenaga kerja yang memiliki ketrampilan dasar dan komptensi kerja tertentu.  


Ketrampilan dasar itu dibagi menjadi tiga, yaitu:

a. Ketrampilan dasar: membaca, menulis, berhitung, mendengarkan dan berbicara.
b. Ketrampilan berfikir: berfikir kreatif, mengambil keputusan, memecahkan masalah, berfikir abstrak (menggambarkan sesuatu dalam fikiran), mengetahui bagaimana cara belajar, dan menalar.
c. Sifat kepribadian: menunjukkan rasa tanggung jawab, harga-diri, kemampuan berinteraksi sosial, mengelola dirinya sendiri, integritas, dan kejujuran.

Kompetensi kerja meliputi:

a. Kemampuan mengelola sumber daya (waktu, uang, fasilitas, dan manusia)
b. Bekerjasama dengan orang lain.
c. Memperoleh dan menggunakan informasi.
d. Memahami antar-hubungan yang kompleks (sistem)
e. Kemampuan bekerja dengan berbagai macam teknologi.

      Walaupun laporan itu dibuat berdasarkan konteks Amerika pada tahun 1991, mengingat pesatnya globalisasi, kita di Indonesia perlu juga mengantisipasi datangnya masa itu di negeri kita ini.  Apalagi kita semua tahu bahwa pada tahun 2003 akan diberlakukan Pasar Bebas ASEAN dan pada tahun 2020 akan diberlakukan Pasar Bebas Asia Pasifik.  Pada era pasar bebas itu, kita akan bersaing secara terbuka dengan negara-negara lain baik di negeri kita sendiri mapun di negeri mereka.  Hanya ada satu kunci untuk memenangkan persaingan dalam bidang apapun: kita harus lebih unggul daripada saingan kita.

Langkah-langkah dalam pengelolaan penerapan kurikulum

1. Pastikan bahwa kurikulum kita, sebagai rencana, sudah bagus:
a. Apakah tujuan kurikuler sudah mempertimbangkan aspirasi masyarakat sasaran dan kecenderungan perubahan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan masyarakat di masa depan?
b. Apakah tujuan instruksional umum di setiap mata pelajaran yang akan diberikan di madrasah itu sudah mengarah kepada suatu titik, yaitu tujuan kurikuler di atas?
c. Apakah tenaga guru yang ada di madrasah kita sudah memahami sasaran-sasaran yang harus dicapai oleh siswa selama belajar di madrasah kita?  Apakah mereka juga sudah faham bahwa tugas utama mereka adalah membantu para siswa agar mencapai sasaran/tujuan pendidikan itu?  Kalau belum, kita perlu mengusahakan agar memahami hal itu.
d. Apakah proses belajar mengajar (PBM) yang direncanakan diperkirakan mampu mendukung tercapainya sasaran pendidikan tersebut oleh siswa?
e. Apakah fasilitas belajar yang ada di madrasah kita diperkirakan mampu mendukung proses belajar mengajar tersebut?
f. Apakah kita telah mempunyai alat evaluasi untuk mengukur secara akurat ketercapaian tujuan pendidikan oleh siswa dan kualitas pelaksanaan kurikulum (program evaluation)?

2. Apabila kurikulum sebagai rencana sudah dapat ditetapkan bagus, maka yang diperlukan hanyalah memonitor pelaksanaannya agar sesuai dengan, atau setidaknya tidak terlalu jauh menyimpang dari, rencana tersebut.  Untuk ini, kepala madrasah, dibantu oleh Waka bidang kurikulum, perlu meyiapkan indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mendeteksi apakah pelaksanaan kurikulum sudah sesuai dengan rencana atau belum.

Penutup


    Makalah ini telah mencoba menjelaskan bagaimana cara mengelola pelaksanaan kurikulum.  Berangkat dari pentingnya kurikulum bagi kemajuan dan prestasi madrasah, penulis menyarankan agar peserta penataran memandang pendidikan sebagai suatu sistem yang komponen-komponen di dalamnya saling berkaitan dan disatukan oleh satu tujuan yang sama.  Untuk dapat melaksanakan kurikulum secara baik dalam rangka peningkatan kualitas madrasah, kepala madrasah harus terlebih dahulu memastikan bahwa kurikulum yang akan dilaksanakan itu sudah bagus dalam arti sesuai dengan aspirasi masyarakat sasaran dan kecenderungan arah perubahan pengetahuan dan ketrampilan yang dibutuhkan oleh masyarakat di masa depan.  Dalam hal ini, visi madrasah perlu diperjelas dan, sebagai bahan pertimbangan, disertakan laporan the Secretary’s Commission on Achieving Necessary Skills (SCANS) dari Menteri Tenaga Kerja Amerika Serikat dilampirkan.  Akhirnya, makalah ini ditutup dengan pembahasan tentang langkah-langkah dalam mengelola pelaksanaan kurikulum di madrasah.

 

 

Catatan:

Makalah ini pernah disampaikan pada Penataran Kepala Madrasah Tsanawiyah Se Jawa Timur di Surabaya, Februari 2000.  Saat itu saya menjadi dosen Fakultas Tarbiyah dan Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Last Updated on Tuesday, 01 September 2009 10:08