Home Makalah Makalah Tertulis PERGESERAN SIFAT KONFESSIONALITAS PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA

Main Menu

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 841589
PERGESERAN SIFAT KONFESSIONALITAS PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Sunday, 23 August 2009 01:19
Article Index
PERGESERAN SIFAT KONFESSIONALITAS PENDIDIKAN NASIONAL INDONESIA
Pendidikan yang dikaitkan dengan pekerjaan
All Pages
  

    Oleh:
    ARIEF FURCHAN


Pendahuluan
 

    Menurut Undang-undang pendidikan, tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani,  kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (UUSPN, Bab II, Ps. 4).

    Pengertian 'manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa' itu biasanya diartikan 'menurut agama masing-masing' dan ini konsisten dengan diberikannya pendidikan agama konfessional (confessional religious education) menurut agama siswa secara wajib di sekolah.  Dalam istilah kependidikan, tujuan pendidikan nasional Indonesia yang dirumuskan seperti di atas bisa dikatakan bersifat konfessional.  Artinya, salah satu tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah membina peserta didik menjadi penganut agama yang taat.

 

    Namun sifat konfessional pendidikan nasional Indonesia itu ternyata merupakan hasil dari suatu proses yang panjang. Pada awal perkembangannya, pendidikan nasional Indonesia bahkan bersifat sekular yang tidak memasukkan pendidikan agama apapun dalam kurikulum sekolahnya.  Pergeseran sifat konfessional pendidikan nasional Indonesia inilah yang menjadi fokus pembahasan saya kali ini.

    Istilah konfessional (confessional) sebenarnya berasal dari istilah dalam pendidikan agama yang mengacu pada pendidikan agama yang bertujuan untuk menanamkan rasa keimanan kepada suatu agama tertentu pada diri peserta didik (Moore 1981:160).  Pendidikan seperti inilah yang kita kenal di Indonesia, seperti yang diselenggarakan di masjid, surau, pesantren, madrasah, gereja, vihara, atau di sekolah umum negeri saat ini.  Kebalikan dari pendidikan agama macam ini adalah pendidikan agama non-konfessional (non-confessional religious education), yaitu pendidikan agama yang tidak bertujuan untuk menanamkan rasa keimanan terhadap agama tertentu melainkan untuk 'membantu peserta didik untuk secara peka menyadari akan adanya berbagai kepercayaan yang diyakini oleh berbagai kelompok dalam masyarakatnya' (Rossiter, 1981:5).  Pendidikan agama jenis ke dua ini adalah pendidikan agama yang diberikan di sekolah-sekolah negeri di kebanyakan negara Barat seperti Amerika Serikat dan Australia.  Pilihan antara ke dua jenis pendidikan agama ini sangat dipengaruhi oleh sejarah hubungan bangsa yang bersangkutan dengan agama mayoritas yang ada di negara itu dan pandangan bangsa itu tentang agama dan pendidikan.  Karena keterbatasan tempat, makalah ini tidak akan membahas bagaimana faktor-faktor itu mempengaruhi pilihan jenis pendidikan agama yang diberikan di sekolah.  Makalah ini hanya akan membatasi diri pada perubahan sifat konfessional pendidikan nasional di Indonesia.

    Para ahli sejarah pendidikan Indonesia biasanya melacak perkembangan pendidikan nasional Indonesia mulai dari zaman pra-Islam (lihat Pendidikan Indonesia dari zaman ke zaman, sejarah pendidikan Jatim).  Namun, sebenarnya sulit untuk menyebut pendidikan saat itu sebagai pendidikan nasional Indonesia karena pada masa itu, bahkan sampai pada zaman kerajaan Islam, negara nusantara yang berwilayah seluas wilayah negara Republik Indonesia ini belum ada.  Yang ada adalah beberapa kerajaan besar-kecil yang masing-masing mempunyai kedaulatan sendiri-sendiri dan bahkan tidak jarang yang saling bermusuhan atau bersaing.  Kendati demikian, ada persamaan dalam sistem pendidikan di masa itu yaitu bahwa pendidikan formal yang ada bersifat elitis dan berfokus pada agama dan budaya saja.  Di zaman Hindu, pendidikan agama itu hanya diperuntukkan bagi calon pendeta saja sedang pendidikan budaya diberikan kepada kalangan istana.  Rakyat biasa pada umumnya tidak mengenal kedua jenis pendidikan itu atau, kalaupun ada yang memiliki, pengetahuan mereka akan kedua hal itu sangat dangkal dan vulgar.  Hal ini dikarenakan sistem keagamaan Hindu/Buddha yang elitis, yang menetapkan bahwa pengetahuan agama adalah monopoli kalangan brahmana saja.

    Pendidikan agama menjadi pendidikan massal ketika agama Islam makin tersebar di nusantara.  Ajaran Islam yang mengharuskan setiap pemeluknya untuk mengetahui apa yang harus dipercayai dan apa yang tidak boleh dipercayai, bagaimana cara beribadah, apa syarat sahnya ibadah, apa yang boleh dilakukan atau dimakan dan apa yang tidak, telah memaksa setiap Muslim untuk belajar tentang Islam.  Tuntutan dari bawah akan adanya pendidikan agama ini bertemu dengan keinginan berdakwah dari kalangan terdidik Muslim sehingga makin menjamurlah tempat-tempat pendidikan Islam.  Sampai pada peralihan abad ke dua puluh, pendidikan Islam di masjid dan pesantren merupakan satu-satunya sumber pendidikan bagi kebanyakan rakyat di nusantara (van der Veur, 1969:1; juga lihat Van Niel, 1970:21).  Pada masa ini pendidikan formal kebanyakan diselenggarakan atas inisiatif rakyat dan dibeayai secara swa-daya.  Pendidikan juga tidak dikaitkan dengan pekerjaan setelah lulus.



Last Updated on Friday, 28 August 2009 20:15