Home Makalah Makalah Tertulis SARJANA AGAMA: PELUANG DAN TANTANGANNYA

Main Menu

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 875214
SARJANA AGAMA: PELUANG DAN TANTANGANNYA PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Monday, 26 October 2009 00:17
Pendahuluan

Kemajuan pembangunan bangsa telah membawa banyak perubahan terrhadap masyarakat Indonesia.  Salah satu di antara perubahan itu adalah perubahan aspirasi masyarakat di bidang pendidikan.  Banyak orang, terutama yang berkecimpung di kalangan pendidikan Islam, merasa bahwa  masyarakat Indonesia kini telah bergeser menjadi semakin materialistik.  Perhatian mereka terhadap masalah materi (keduniawian) semakin besar dan perhatian kepada masalah agama semakin kecil.  Hal ini juga tercermin dalam aspirasi pendidikan mereka.  Pendidikan, bagi kebanyakan warga masyarakat, dianggap sebagai persiapan untuk memperoleh pekerjaan, bukan lagi untuk mencari ilmu demi ilmu seperti zaman kejayaan pesantren dulu   Kini semakin banyak orang yang memilih pendidikan non-agama yang menjanjikan pekerjaan yang lebih mudah daripada pendidikan agama.  Ini tampak baik di tingkat pendidikan dasar maupun di tingkat pendidikan menengah dan tinggi.

Di tingkat pendidikan dasar, orang lebih mementingkan pengetahuan umum daripada pendidikan agama.  Orang akan merasa lebih prihatin ketika nilai rapor pengetahuan umum anaknya rendah daripada ketika nilai rapor pendidikan agamanya rendah.  Kursus-kursus penunjang pelajaran di tingkat dasar dan menengah yang laris adalah kursus atau bimbingan belajar untuk menunjang prestasi anak di ebtanas atau UMPTN (yang terpusat pada ilmu pengetahuan umum), bukan kursus pendidikan agama.

Di tingkat pendidikan tinggi, peminat ke IAIN/STAIN/PTAIS jauh lebih sedikit daripada peminat ke UMPYN ataupun ke PTS non-agama.  Dari yang sedikit itupun kualitasnya tidak sebagus mereka yang memilih PTN dan PTS non-agama.  Sering dikatakan bahwa sebagian besar mahasiswa yang masuk ke IAIN, STAIN, dan PTAIS adalah mereka yang tidak lulus UMPYN atau tidak mampu ke PTS favorit karena biaya.  IAIN, STAIN, atau jPTAIS tampaknya hanya merupakan pilihan cadangan bagi sebagian besar mahasiswa.  Hal ini tentu saja mengakibatkan persoalan tersendiri bagi IAIN, STAIN, atau PTAIS karena motivasi belajar mereka di IAIN, STAIN, atau PTAIS rendah sehingga sulit bagi lembaga pendidikan itu untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas tinggi.

Keadaan yang kurang menguntungkan ini ditambah dengan banyaknya lulusan IAIN, STAIN, apalagi PTAIS yang masih menganggur setelah lulus.  Salah seorang bekas Rektor IAIN yang kemudian menjadi Irjen di Depag pernah mengatakan bahwa pertanyaan yang paling ia tidak berani tanyakan apabila bertemu dengan bekas anak didiknya (lulusan IAIN tempat ia bekerja) adalah "Bekerja di mana Anda sekarang?"  Beliau takut kalau dijawab, "Belum bekerja, pak."

Keadaan inilah yang mungkin akan menimbulkan pertanyaan pada diri kita yang berkecimpung di bidang pendidikan Islam ini:  Masih adakah peluang bagi Sarjana Agama di Indonesia ini?  Apakah tantangan yang dihadapi oleh Sarjana Agama agar tetap berperan di masyarakat di zaman yang cepat berubah ini?  Inilah pertanyaan-pertanyaan yang ingin dijawab dalam makalah ini.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, makalah ini mula-mula akan mengajak pembaca untuk menganalisa tentang perubahan aspirasi masyarakat tersebut.  Setelah itu, makalah ini akan mengajak pembaca untuk melihat peluang bagi dan tantangan yang dihadapi oleh Sarjana Agama.  Terakhir, makalah ini ingin mengajukan pertanyaan kepada IAIN, STAIN, dan PTAIS sebagai 'produsen' Sarjana Agama.

Perubahan aspirasi pendidikan masyarakat, haruskah kita sesali?

Banyak orang, terutama yang berkecimpung di lembaga pendidikan Islam, yang mengeluhkan dan menyesali terjadinya perubahan aspirasi masyarakat di bidang pekerjaan dan pendidikan ini.  Mereka 'menyalahkan' masyarakat yang, menurut pendapatnya, telah tidak memperhatikan pendidikan agama demi memperoleh pendidikan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan prospek memperoleh pekerjaan di masa depan.  Namun, apakah keluhan dan penyesalan saja dapat menyelesaikan persoalan yang kita hadapi?  Haruskah masyarakat menyesuaikan diri dengan selera kita yang bergerak di bidang di pendidikan Islam ataukah kita yang menyesuaikan diri dengan selera masyarakat?

Dalam opendekatan sistem ada kaidah yang mengatakan bahwa suatu sistem akan tetap eksis apabila sistem tersebut dapat memenuhi kebutuhan supra sistemnya.  Dalam sistem pendidikan, lembaga pendidikan merupakan sub-sistem dari masyarakat.  Fungsi dari sub-sistem ini adalah melayani kebutuhan supra sistemnya.  Dengan demikian, fungsi dari lembaga pendidikan adalah untuk melayani kebutuhan masyarakatnya.  Ketika kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan itu berubah, maka lembaga pendidikan itu harus menyesuaikan dirinya dengan perubahan itu agar dia, sebagai sub-sistem, tetap eksis (dibutuhkan).

Masyarakat memang selalu berubah dan memang harus berubah.  Sejarah telah mencatat perubahan-perubahan itu, mualai dari zaman primitif (zaman batu) sampai ke zaman komputer sekarang ini.  Masyarakat yang tidak mau berubah akan ketinggalan jika dibandingkan dengan masyarakat yang mau berubah.  Kita tidak dapat menghalangi perubahan itu karena, di dunia ini, hanya perubahan itulah yang pasti terjadi.  Persoalannya banrngkali adalah kita merasa bahwa perubahan yang terjadi akhir-akhir ini begitu cepat sehingga kita pontang-panting untuk menyesuaikan diri.  (Bandingkan dengan perubahan yang terjadi tiga puluh tahun yang lalu, yang cukup lamban sehingga memberi kesempatan orang untuk menyesuaikan diri).

Perubahan masyarakat terjadi karena adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.  Pengetahuan dan teknologi itu kemudian tersebar luas melalui komunikasi antar kelompok masyarakat dan antar negara.Kecepatan perubahan yang terjadi di seluruh dunia akhir-akhir ini adalah akibat dari kemajuan iptek di bidang telekomunikasi yang memungkinkan orang untuk berkomunikasi antar tempat yang jarakanya sangat jauh dengan sangat cepat (penemuan pesawat terbang super cepat Concorde, hungungan telepon melalui satelit, siaran televisi melalui satelit, dan, yang terakhir ini, internet).  

Kemajuan teknologi telekomunikasi telah memungkinkan orang melihat kemajuan masyarakat atau bangsa lain dan ingin menirunya.  Kemajuan teknologi transportasi telah memungkinkan orang untuk berkunjung ke negara lain dan mengimpor atau mengekspor barang dari dan ke negara lain.  Hal ini kemudian menciptakan pasar luar negeri bagi barang atau komoditi terseebut.  Kemajuan teknologi produksi telah memungkinkan pabrik memproduksi barang dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif cepat sehingga membuat harga barang tersebut semakin murah dan semakin terbeli oleh banyak orang di seluruh dunia.  Inilah yang disebut sebagai proses globalisasi, suatu proses mendunia di mana orang tidak lagi melihat jangkauan langkahnya terbatas hanya di negaranya sendiri melainkan sudah meluas ke seluruh dunia.  (Melalui internet, kita dapat menjelajahi dunia untuk mencari informasi, bahkan membeli barang, tanpa harus keluar kamar).

Pertukaran informasi yang cepat inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan cepat di masyarakat.  Perubahan itu  kini kita rasakan hampir di semua bidang, di bidang politik, ekonomi, iptek, budaya, sosial, dan agama.  Keinginan untuk meniru kemajuan banggsa lain itulah yang mungkin menyebabkan kita menganggap masyarakat kita kini semakin disibukkan oleh urusan dunia dan menomor duakan urusan akhirat.  Tetapi, benarkah demikian?

Kalau kita mau menengok sejarah, barangkali akan terkesan oleh kita bahwa trend manusia untuk sibuk dengan urusan dunia dan melupakan urusan akhirat itu bukanlah barang baru.  Di dalam Al-Qur'an banyak kisah tentang itu, tentang Qarun yang kaya raya, tentang Fir'aun yang merasa menjadi Tuhan karena begitu besar kekuasaannya, dan banyak lagi firman Allah yang menunjukkan betapa banyaknya manusia yang melupakan akhirat karena tergoda perhatiannya oleh kesibukan dunia.  Oleh karena itulah mungkin Tuhan lalu mengutus para nabi dan rasul untuk mengingatkan manusia agar tidak terlalu terbuai oleh urusan dunia yang fana ini.  Sifat dasar manusia untuk lupa dan terbuai oleh dunia itu menimbulkan kebutuhan akan 'para pengingat' yaitu nabi dan rasul.  Kini, sesuai dengan kemajuan zaman, nabi dan rasul itu tiada lagi.  Fungsi itu kini telah digantikan oleh para ulama, ahli ilmu agama.

Peluang Sarjana Agama di masa kini

Pertanyaan yang muncul dalam hal ini adalah: "Melihat kondisi saat ini, di mana banyak warga masyarakat yang semakin tertarik jpada masalah non-agama dan cenderung menomor sekiankan masalah yang berkaitan dengan agama, masih adakah peluang bagi Sarjana Agama untuk eksis di masyarakat?"  Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu mendefinisikan dulu apa yang kita maksud dengan istilah 'peluang' itu.  Apakah peluang itu kita definisikan sebagai peluang untuk 'mengabdi', 'berperan serta', 'bekerja', ataukah 'menjadi kaya' di masyarakat?  

Peluang untuk mengabdi dan berperan serta di masyarakat, saya kira, terbuka amat luas.  Kebutuhan akan Sarjana Agama amat banyak.  Semakin rusak suatu masyarakat, akan semakin dibutuhkan pula peran ulamaiii, sebagai pewaris nabi, untuk 'mengingatkan mereka ke jalan yang lurus.  Dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritasf Muslim ini, inilah saat di mana mereka amat membutuhkan para Sarjana Agama untuk membantu mereka menyeimbangkan kehidupan mereka yang terus menerus dibombardir oleh urusan pekerjaan (duniawi) mereka.  Banyak contoh yang menunjukkan bahwa para ahli ilmu agama itu juga dapat 'menjadi kaya' karena pekerjaannya itu.

Peluang di luar negeri pun terbuka lebar.  Dengan semakin majunya teknologi telekomunikasi, kini penyebaran Islam ke negeri non-Muslim semakin mudah.  Di Amerika Serikat, misalnya, kini semakin banyak orang Amerika yang memeluk agama Islam akibat kontak mereka dengan orang-orang Muslim yang berkunjung ke sana atau yang ditemuinya ketika mereka berkunjung ke negara-negara muslim.  Mereka kebanyakan mengenal Islam melalui buku-buku tentang Islam yang kini semakin mudah diperoleh.  Bahkan, di internet pun kini banyak situs-situs yang menyediakan artikel tentang Islam untuk pemula, bahkan Al-Qur'an dan Hadith dengan berbagai versi terjemahannya.  Mereka ini tentu saja memerlukan para ahli ilmu agama untuk membimbing dan memperluas wawasan keagamaan mereka.  Perjanjian Pasar Bebas antar negara ASEAN di tahun 2003, di mana hambatan non-tarif bagi lalu lintas barang, uang, jasa, dan orang antar negara ASEAN semakin dihilangkan, semakin membuka peluang Sarjana Agama Indonesia untuk bekerja di negara ASEAN.  Beberapa masyarakat muslim di ASEAN, seperti di Patani (Thailand), Malaysia, Singapore, dan Filipina tentu masih membutuhhkan tenaga ahli ilmu  Agama dari Indonesia.  Di tahun 2010, peluang untuk bekerja di negara-negara di Asia Pasifik (termasuk AS, Australia, Cina, dan Jepang) semakin terbuka dengan diberlakukannya perjanjian Pasar Bebas Asia Pasifik (APEC ).

Hal ini diperkuat dengan ramalan para futurists (peramal masa depan), seperti Alvin Toffler dan sebagainya, yang mengatakan bahwa masyarakat di negara maju di masa depan akan kembali cenderung ke masalah spiritual setelah mereka merasakan kekosongan hati akibat melimpahnya materi yang mereka nikmati akibat kemajuan teknologi selama ini.  Kecenderungan masyarakat negara maju untuk mempelajari masalah-masalah spiritual ini tentu saja merupakan peluang yang amat bagus bagi para Sarjana Agama untuk bekerja di luar negeri.  Apalagi setelah diberlakukannya perjanjian Pasar Bebas.

Tantangan yang dihadapi oleh Sarjana Agama

Tantangan yang dihadapi oleh para Sarjana Agama di abad informasi ini adalah:  mampukah mereka memanfaatkan peluang yang telah diutarakan di atas tadi?  Mampukah mereka mengatasi kendala-kendala yang selama ini melilit sebagian besar Sarjana Agama?

Kendala-kendala yang melilit diri sebagian besar lulusan Perguruan Tinggi Agama Islam itu sudah lama diketahui orang: (1) penguasaan ilmu agama Islam yang kurang mendalam akibat ketidak mampuan membaca kitab klasik yang merupakan khazanah ilmu pengetahuan agama Islam, (2) penguasaan ilmu pengetahuan umum untuk dapat berkomunikasi secara lancar dengan anggota masyarakat yang menguasai bidang itu, (3) penguasaan yang kurang luas atas metodologi dan teknik penyampaian ajaran Islam agar mudah diterima oleh warga masyarakat yang berbeda-beda, dan (4) keteladanan yang kurang dapat ditiru akibat kurangnya penghayatan ajaran agama  yang kurang oleh Sarjana Agama itu sendiri.  

Prof. Dr. Mukti Ali, semasa masih menjabat sebagai menteri agama, menyebutkan bahwa kelemahan pokok lulusan IAIN adalah penguasaan bahasa asing (Arab dan Inggris) dan metodologi.  Penguasaan bahasa Arab akan memudahkan Sarjana Agama untuk menggali ilmu agama langsung dari sumbernya sementara penguasaan Bahasa Inggris akan membantu mereka mengikuti jperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Penguasaan metodologi ilmiah akan membantu mereka menata pikir mereka sehingga pendapat mereka dapat disampaikan secara logis dan urut.  Sampai sekarang, setelah lebih dari dua puluh lima tahun, kendala itu masih tgetap melilit lulusan IAIN, apalagi PTAIS.

Untuk tetap dapat melayani kebutuhan masyarakat akan ilmu agama Islam, Sarjana Agama di zaman millenium ini harus berusaha untuk memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Mampu berbahasa Arab, minimal mampu membaca kitab klasik.  Kemampuan ini diperlukan untuk menggali sendiri ilmu pengetahuan agama Islam yang tersimpan di dalam kitab-kitab berbahasa Arab yang jumlahnya banyak sekali dan terus bertambah.
2. Menguasai ilmu agama Islam secara luas dan mendalam serta menguasai perbedaan-perbedaan faham yang pernah ada di kalangan ummat Islam mengenai berbagai masalah (politik budaya, agama, dsb.).
3. Mengahayti dan mengamalkan ajaran agama Islam sehingga dapat dijadikan teladan perilaku bagi orang lain yang mengikutinya.
4. Berwawasan global, melihat seluruh permukaan bumi ini sebagai tempat pengabdian kepada Allah dan siap untuk bekerja di mana saja di muka bumi ini.  Juga selalu mengikuti perkembangan dunia.
5. Menguasai bahasa asing lain, minimal Bahasa Inggris, agar dapat berkomunikasi dengan (menyampaikan pesan Islam kepada) orang asing.  Penguasaan bahasa asing lain juga akan memudahkan mereka memperluas wawasan keilmuannya.
6. Mengikuti perkembangan kemajuan iptek sehingga ia dapat berkomunikasi secara lancar dengan warga masyarakat yang kini sudah hidup sehari-hari dengan iptek.
7. Menguasai ilmu berkomunikasi yang diperlukan untuk menyampaikan pesan Islam secara tepat sesuai dengan sasaran dakwahnya.

Pertanyaan untuk IAIN/STAIN dan PTAIS

Pada akhir makalah ini, penulis ingin mengaaukan pertanyaan untuk IAIN, STAIN, dan PTAIS sebagai 'produsen' Sarjana Agama.  Pertanyaan yang sederhana namun mungkin memerlukan jawaban yang tidak mudah:  Sarjana Agama seperti apakah yang ingin Anda hasilkan?  Sarjana Agama (ahli agama) yang tidak mengerti agama ataukah yang benar-benar ahli dalam ilmu agama?  Ahli ilmu agama yang fasih membaca kitab ataukah yang tidak mampu membaca kitab?  Yang berwawasan global ataukah yang hanya berwawasan lokal?

Kalau pertanyaan itu kita tanyakan kepada para pengelola IAIN, STAIN, atau PTAIS seperti penulis ini, maka jawaban yang diberikan umumnya bersifat normatif dan idealis: yang terbaiklah sasaran kami.  Yang kami ingin hasilkan tentunya adalah Sarjana Agama yang benar-benar ahli dalam ilmu agama, yang mampu membaca kitab, dan yang berwawasan global.  Namun, kalau dilihat dari hasil yang selama ini kami hasilkan, mungkin Anda akan bertanya lagi "Apakah Anda serius dengan jawaban Anda itu?'  

Kekurangan-kekurangan yang ada pada Sarjana Agama, untuk sebagian, merupakan tanggung jawab IAIN, STAIN, dan PTAIS yang telah meluluskan mereka itu.  Tanda lulus merupakan tanda bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah memenuhi standar kemampuan yang ditentukan oleh lembaga pendidikannya.  Ketika standar kelulusan itu diturunkan, entah karena alasan apa, maka turun pulalah kualitas lulusan lembaga pendidikan tersebut.  Demikian pula sebaliknya, apabila standar kelulusan itu ditingkatkan, maka akan meningkat pula kualitas lulusan yang dihasilkan.

Selama ini IAIN, STAIN, ataupun PTAIS seolah-olah berfungsi hanya sebagai pemberi ijazah saja, pemberi gelar dan sertifikasi, bukan pembina kemampuan akademis calon alumninya.  Kalau kita mau meneliti dengan sungguh-sungguh, sebagian besar alumni IAIN yang mampu membaca kitab itu umumnya karena mereka memang sudah mampu membaca kitab sebelum masuk ke IAIN.  Sementara mereka yang sebelum masuk ke IAIN tidak mampu membaca kitab tetap tidak mampu membaca kitab dketika keluar dari IAIN.  Standar kualitas flulusan itu telah lama kita turunkan, dengan alasan rasa kasihan, sehingga kita tidak tahu lagi apakah standar kualitas itu masih ada.

Kiranya perlu ada perubahan orientasi di kalangan pengelola IAIN, STAIN, atau PTAIS apabila kita ingin mengembalikan citra Sarjana Agama (alumni PTAI) yang dulu pernah dikagumi orang.  Orientasi yang semula diarahkan ke kuantitas perlu dikembalikan ke kualitas.  Lebih baik kita menghasilkan sedikit lulusan yang berkualitas daripada menghasilkan banyak lulusan yang tidak berkualitas.  Dengan terjaganya mutu lulusan, citra lembaga dan citra lulusan juga akan terangkat.

Penutup

Makalah ini telah berusaha membahas peluang dan tantangan yang dihadapi oleh Sarjana Agama dewasa ini.  Dikemukakan bahwa, di era millenium ini, Sarjana Agama memiliki peluang yang amat luas seiring dengan kemajuan ummat manusia yang kemudian menimbulkan kebutuhan akan keseimbangan hidup secara fisik dan spiritual.  Sektor spiritual guna mengimbangi kehidupan fisik yang makin maju itulah peluang yang dapat dimasuki oleh Sarjana Agama.  Namun, kebutuhan akan ahli ilmu agama ini dibarengi dengan tuntutan standar kualitas yang lebih tinggi.  Ahli agama di masa depan dituntut untuk bukan saja menguasai ilmu agama melainkan juga memahami perkembangan iptek karena masyarakat di era millenium ini akan semakin lekat dengan penggunaan iptek.  Itulah juga yang menjadi tantangan bagi Sarjana Agama dewasa ini.  Kemampuan mereka untuk menafaatkan peluang yang terbuka lebar akan sangat tergantung pada kemampuan mereka untuk memenuhi tuntutan standar kualitas yang ditetapkan oleh masyarakat yang dilayaninya.  Dalam hal ini, kemampuan berbahasa asing dan wawasan global ikut menentukan kebarhasilan mereka memanfaatkan peluang itu.

Sebagai penutup, penulis ingin meminta pertanggung jawaban IAIN, STAIN, dan PTAIS sebagai 'produsen' para Sarjana Agama ini karena tinggi rendahnya kualitas Sarjana Agama, untuk sebagian, ditentukan juga oleh cara mendidik lembaga pendidikan yang menghasilkannya.

Catatan Akhir:
i Disampaiakan pada Seminar dengan tema "Sarjana Agama: Peluang dan Tantangannya" yang diselenggarakan oleh STAIN Tulungagung, 6 Agustus 2000.
ii Dosen Pasca Sarjana dan Pembantu Rektor I, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
iii Dalam Bahasa Inggris, istilah 'ulama' diterjemahkan menjadi 'religious scholars' yang dalam Bahasa Indonesia berarti 'Sarjana Agama'.  Dus, Sarjana Agama, sebenarnya adalah sama dengan ulama (walau untuk tingkat S-1 masih merupakan calon ulama.  Ulama sesungguhnya adalah ketika mereka lulus jenjang S-3 di IAIN).
7