Home Makalah Makalah Tertulis PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 752951
PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Thursday, 29 October 2009 22:18

PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS

DI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM

DI MILLENIUM III

Oleh

Arief Furchan

Pendahuluan


C
iri Millenium III

    Millenium ke tiga, yang telah kita masuki saat ini, mempunyai ciri, antara lain, kemajuan iptek yang amat pesat.  Perkembangan teknologi yang cept ini dapat kita lihat terutama di bidang komputer.  Belum habis kekaguman kita dengan diciptakannya processor yang cepat, sudah muncul lagi processor yang lebih cepat dan lebih mampu memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menggunakan internet.  Belum sempat kita menikmati processor baru tersebut, telah terbetik berita bahwa Intel akan merilis processor baru yang lebih mampu melakukan multitasking.  Demikian pula di bidang telekomunikasi, kedokteran, dsb.


    Kepesatan kemajuan iptek ini, terutama di bidang telekomunikasi, telah menyebabkan hubungan dan pertukaran informasi antar bangsa menjadi lebih mudah dan mendorong terjadinya proses globalisasi.  Globalisasi di bidang ekonomi telah mendorong terbentuknya kerjasama ekonomi antar negara dan menghasilkan apa yang dikenal dengan pasar bebas.  Di kalangan negara ASEAN, pasar bebas antar mereka disepakati diberlakukan pada tahun 2003.  Untuk kawasan yang lebih luas lagi, Asia Pasifik, disepakati bahwa pasar bebas antar negara anggota APEC akan diberlakukan pada tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara yang sedang berkembang.  Inti dari perjanjian pasar (perdagangan) bebas ini adalah pengurangan hambatan non-tarif atas lalu lintas keluar masuknya uang, barang, jasa, dan uang di antara negara anggota.

    Millenium III juga disebut sebagai abad informasi,  Hal ini disebabkan oleh begitu banyak dan mudahnya informasi dapat diperoleh orang saat ini.  Melalui teknologi televisi satelit, orang dapat mengetahi apa yang terjadi di seluruh dunia secara langsung pada saat peristiwa itu terjadi (Bayangkan, ketika Perang Dunia II terjadi, berita tentang pendaratan di Normandy di Eropa baru dapat diketahui oleh penduduk Amerika dua minggu sesudahnya).  Ditemukannya teknologi compact disc telah memungkinkan orang dapat menyimpun seluruh isi Ensiklopedia Brittanica, yang terdiri atas lebih dari 28 jilid buku tebal, ke dalam satu keping CD.  Melalui CD, orang juga dapat melihat video kehidupan binatang di alam bebas, di laut dalam, dsb.  Bahkan, melalui sekeping CD, kini orang dapat belajar piano atau gitar dari seorang ahli dan guru musik kelas dunia.

     Melalui internet, kita kini dapat menjelajahi berbagai negara untuk mendapatkan berbagai informasi yang kita butuhkan, mulai dari yang bermanfaat sampai ke yang tidak bermanfaat.  Kita dapat melihat katalog buku yang ada di hampir seluruh perpustakaan Perguruan Tinggi di Amerika tanpa harus keluar dari kamar kita.  Di beberapa perpustakaan, kita bahkan dapat membaca beberapa buku atau artikel yang telah mereka masukkan ke dalam komputeriii.  Beberapa lembaga pendidikan tinggi juga telah menawarkan program pendidikan jarak jauh melalui internet.  Untuk mereka yang tertarik dengan informasi mengenai Islam, ada beberapa situs yang dikelola oleh kelompok mahasiswa dan masyarakat muslim yang khusus ditujukan untuk penyebaran informasi mengenai Islam (dakwah).  Beberapa profesor di bidang ilmu Islam (Islamicists) juga mempunyai situs yang khusus mengenai Islam.  Melalui situs-situs seperti ini biasanya anda akan menemukan links atau hubungan ke situs-situs lain yang sejenis.

Pentingnya Penguasaan Bahasa Inggris pada Millenium III

    Perkembangan teknologi yang merambah hampir semu sektor kehidupan akhir-akhir ini semakin memantapkan kedudukan Bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa internasional.  Kontak antar bangsa yang semakin sering terjadi akibat semakin mudah, murah, dan cepatnya sarana transportasi jelas memerlukan alat komunikasi (bahasa) yang difahami oleh kedua belah fihak.  Dalam hal ini, bahasa Inggris menduduki tempat teratas dalam hal banyaknya orang asing yang menggunakannya sebagai bahasa antar bangsa.

    Bahasa Inggris dibutuhkan bukan saja oleh mereka yang harus berhubungan dengan orang asing melainkan juga oleh mereka yang ingin menguasai iptek.  Agar tidak ketinggalan zaman (ketinggalan informasi mutakhir), mereka harus rajin mengikuti perkembangan mutakhir di bidang ilmu yang digelutinya melalui artikel atau makalah yang ditulis oleh rekan-rekan seprofesi mereka di berbagai negara.  Kendati artikel atau makalah itu ada juga yang ditulis dalam bahasa lain, sebagian besar ditulis dalam Bahasa Inggris.  Adanya internet telah makin memudahkan mereka untuk mendapatkan artikel terbaru di bidangnya.

    Oleh karena itu, kalau kita ingin memanfaatkan berbagai peluang yang terbuka akibat kemajuan teknologi yang telah dan akan terus berlangsung ini, kita perlu menguasai salah satu bahasa internasional itu dan yang paling banyak dipakai di dunia ini adalah Bahasa Inggris.  Dengan penguasaan bahasa Inggris, kita akan dapat menguasai iptek, karena banyaknya karya ilmiah yang ditulis dalam bahasa itu.  Dengan ketrampilan berbahasa Inggris, kita juga akan mampu memanfaatkan peluang yang terbuka akibat pasar bebas untuk bekerja dan berdakwah di luar negeri.

Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah Islam

   Namun, kenyataan menunjukkan bahwa program Bahasa Inggris di kebanyakan Lembaga Pendidikan Islam (mulai Madrasah Tsanawiyah sampai ke IAIN/STAIN atau PTAIS) kurang berhasil kalau tidak boleh dikatakan telah gagal samasekali.  Setelah belajar Bahasa Inggris selama enam tahun (Mulai dari Tsanawiyah sampai lulus Aliyah) para siswa masih belum mampu berkomunikasi dengan orang lain dalam bahasa Inggris.  Bahkan merek juga belum mampu memahami buku teks berbahasa Inggris yang seharusnya mereka baca di perguruan tinggi.

    Berdasarkan pengamatan pribadi selama ini, saya berkesimpulan bahwa ada beberapa kemungkinan penyebab bagi kegagalan program bahasa Inggris di sekolah Islam ini.  Tentu  saja, tidak setiap lembaga pendidikan Islam memiliki semua kemungkinan penyebab ini.  Mungkin ada lembaga pendidikan yang mempunyai beberapa faktor, bahkan mungkin hanya satu faktor saja.  Faktor-faktor itu, antara lain, adalah:

  • Kurang fokusnya program pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga pendidikan Islam.  Pembelajaran Bahasa Inggris biasanya dilakukan di kelas seperti mata-pelajaran yang lain, dengan murid yang heterogen dan berjumlah banyak.   Bahan dan latihan kebahasaan yang diberikan biasanya didasarkan pada kurikulum sekolah yang berlaku nasional.  Karena Bahasa Inggris merupakan salah satu mata uji dalam Ebtanas, maka fokus perhatian guru dan siswa seringkali lebih terarah kepada bagaimana agar siswa lulus dan mendapat nilai tinggi dalam Ebtanas Bahasa Inggris, bukan pada penguasaan ketrampilan berbahasa oleh siswa.
  • Program lebih bersifat formalitas dan melupakan kualitas.  Di beberapa lembaga pendidikan Islam saya melihat seringkali program pembelajaran Bahasa Inggris di kelas itu hanya merupakan formalitas belaka.  Guru Bahasa Inggris tidak dipilih berdasarkan kemampuan bahasa Inggrisnya.  Bahkan saya menemui beberapa guru bahasa Inggris yang tidak dapat berbahasa Inggris!  Dengan kualitas guru Bahasa Inggris seperti itu, kiranya tidak mungkin akan menghasilkan siswa yang mampu berbahasa Inggris.
  • Guru Bahasa Inggris di beberapa sekolah Islam lebih memusatkan perhatiannya kepada mengajarkan komponen bahasa (Structure, Vocabulary) daripada mengajarkan ketrampilan berbahasa (berbicara, memahami bacaan, dan mengarang secara tertulis).  Siswa lebih banyak belajar tentang bahasa daripada belajar bahasa.  Bahasa yang fungsional pada hakikatnya adalah keterampilan, yakni keterampilan mendengarkan (memahami percakapan), berbicara (dan dimengerti oleh orang lain), memahami bacaan, dan menulis (mengungkapkn isi pikiran melalui tulisan).  Setiap keterampilan tersebut didukung oleh beberapa komponen seperti structure, vocabulary, dan pengenalan bunyi dan tulisan.  Kita sering meoihat bahwa guru bahasa Inggris lebih asyik mengajarkan structure daripada mengajarkan keterampilan berbicara, memahami bacaan, atau mengarang.
  • Salah satu faktor kemungkinan penyebab kekurang berhasilan program pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah Islam, menurut saya, adalah kurangnya komitmen pengelola lembaga pendidikan Islam akan keterampilan berbahasa Inggris siswanya.  Banyak pimpinan lembaga yang tidak merasa bahwa penguasaan Bahasa Inggris itu penting bagi siswa.  Akibatnya mereka tidak termotivasi untuk berusaha keras agar pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga pendidikannya berhasil.  Tidak ada penunjukan seorang ahli untuk mengelola program pembelajaran Bahasa Inggris, tidak cukupnya dana yang dialokasikan untuk program ini, dan tidak ada fasilitas penunjang serta lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran Bahasa Inggris merupakan indikasi kurang komitmennya pimpinan dalam masalah ini.
  • Kegagalan program pembelajaran Bahasa Inggris seringkali juga disebabkan oleh kurang profesionalnya guru Bahasa Inggris yang diserahi tanggung jawab oleh sekolah.  Guru tersebut mungkin memiliki ijazah dari Jurusan Bahasa Inggris namun ijazah formal itu mungkin tidak diikuti dengan profesionalitas yang memadai.  Guru bahasa Inggris yang baik dan profesional, menurut saya, minimal harus memiliki hal-hal sebagai berikut.
    • Lancar berbicara dalam Bahasa Inggris
    • Memiliki skor TOEFL minimal 500
    • Memiliki pengetahuan yang cukup tentang ilmu bahasa (Linguistics)
    • Memiliki antusiasme mengajar bahasa

Beberapa Saran untuk Pengembangan Program Pembelajaran Bahasa Inggris di Lembaga Pendidikan Islam

Berdasarkan analisa kemungkinan penyebab kekurang-berhasilan program pembelajaran Bahasa Inggris di banyak lembaga pendidikan Islam di atas, saya ingin menyarankan hal-hal berikut:

  1. Hindari formalitas, utamakan kualitas.  Mengingat bahasa adalah keterampilan dan keterampilan itu memerlukan praktek yang intensif, program pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga pendidikan Islam hendaknya tidak disamakan dengan program pembelajaran mata-pelajaran lain yang tercantum dalam kurikulum.  Bahasa Inggris hendaknya diberikan di luar jam pelajaran biasa (sore hari bagi sekolah yang masuk pagi dan pagi hari bagi sekolah yang masuk sore).  Kelas bahasa hendaknya juga tidak terlalu besar, maksimum 30 orang dengan jumlah ideal 20.  Buat pelajaran Bahasa Inggris seperti kursus Bahasa Inggris yang ada di masyarakat.  Dana lebih besar yang diperlukan untuk pengaturan seperti dapat ditutup dengan mewajibkan siswa untuk membayar uang kursus.  Apabila ada bukti nyata akan keberhasilan program semacam ini, insya Allah para orang tua siswa tidak akan keberatan untuk membayar uang tambahan itu.
  2. Tegaskan fokus pembelajaran bahasa Inggris.  Susunlah program pembelajaran Bahasa Inggris itu berdasarkan fokus yang jelas.  Misalnya, tujuan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah X adalah menjadikan siswa mampu bercakap-cakap dengan lancar dalam Bahasa Inggris dan mampu memahami isi bacaan berbahasa Inggris untuk tingkat menengah.  Kalau perlu, dapat juga ditambahkan kemampuan menulis surat umum dalam bahasa Inggris.  Dengan fokus tujuan yang tegas ini, guru akan dapat menyusun kegiatan, bahan, dan latihan yang diharapkan akan membuat siswa mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan tersebut.  Jenjang yang umumnya digunakan dalam kursus Bahasa Inggris adalah:
    1. Conversation
    2. General English
    3. English for Special Purposes
    4. Writing
    5. TOEFL
  3. Ajarkan keterampilan, bukan komponen.  Saran ini hanya mempertegas dua saran sebelumnya.  Kita akan berhasil dalam program pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga pendidikan kita kalau kita mau membuang kebiasaan lama yang keliru itu, yaitu kebiasaan untuk mengajarkan komponen bahasa dan bukan keterampilan bahasa.  Pertanyaan yang mungkin akan timbul adalah 'bagaimana dengan Ebtanas Bahasa Inggris yang lebih menekankan evaluasi tertulis dan obyektif daripada tes percakapan?'
Meskipun kurikulum, materi, dan bentuk latihan yang diberikan dalam pelajaran Bahasa Inggris model kursus ini berbeda dengan kurikulum nasional untuk SLTP/SMU, tujuan yang ingin dicapai adalah sama: yakni siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Inggris sampai taraf intermediate.  Pengalaman menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti kursus bahasa Inggris di luar sekolah tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal Bahasa Inggris di Ebtanas SMU, apalagi SLTP.  Apalagi kalau kursus itu dilakukan di sekolah kita sendiri, kita dapat memasukkan latihan-latihan ujian itu ke dalam program kursus.  Keterampilan bercakap-cakap akan membuat siswa makin termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya.
4.  Ciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembelajaran Bahasa Inggris.  Penciptaan lingkungan ini dapat dilakukan dengan, misalnya, sering mengadakan lomba pidato Bahasa Inggris, Quiz Bahasa Inggris, drama berbahasa Inggris, perpustakaan yang berisi buku-buku cerita berbahasa Inggris, majalah dinding berbahasa Inggris, pengumuman-pengumuman dalam bahasa Inggris, dlsb.

Penutup

Makalah ini telah membahas secara singkat pentingnya bahasa Inggris bagi umat Islam di saat kita akan memasuki Millenium III ini.  Millenium III yang bercirikan kemajuan iptek, globalisasi dan informasi ini menuntut orang-orang yan menguasai bahasa-bahasa internasional semisal Bahasa Inggris.  Sayang, dalam prakteknya banyak program pembelajaran Bahasa Inggris di lembaga pendidikan yang kurang berhasil atau gagal sama sekali. Hasil pengamatan pribadi mengenai kemungkinan penyebab kegagalan itu telah disampaikan dan beberapa saran pemecahan juga telah diutarakan.  Sebagai penutup, saya ingin menyimpulkan bahwa untuk meningkatkan kinerja program pembelajaran di lembaga pendidikan Islam diperlukan keberanian para pengelola lembaga pendidikan Islam untuk melakukan terobosan-terobosan kreatif yang disertai komitmen yang tinggi untuk mengalokasikan sumberdaya (waktu, dana, orang, dan tempat).

Catatan akhir

i Makalah disajikan pada Seminar "Pembelajaran Bahasa Inggris Bernuansa Islam Memasuki Millenium III" yang diselenggarakan oleh Fakultas Tarbiyah, IAIN Antasari Banjarmasin, 9 Oktober 1999.
ii Pembantu Rektor I, IAIN Sunan Ampel Surabaya.
iii Saat ini Anda dapat membaca beberapa artikel yang dimuat dalam beberapa Jurnal Ilmiah yang diterbitkan oleh IAIN Sunan Ampel Surabaya melalui internet.
1

Last Updated on Saturday, 07 November 2009 20:38