Home Makalah Makalah Tertulis PELUANG DAN ANCAMAN GLOBALISASI DAN INFORMASI

Main Menu

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 824575
PELUANG DAN ANCAMAN GLOBALISASI DAN INFORMASI PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Tuesday, 10 November 2009 22:26

 
ERA GLOBALISASI DAN INFORMASI:
PELUANG DAN ANCAMANNYA
BAGI LULUSAN PTAI i

Oleh:
Arief Furchan ii


Pendahuluan

   Dewasa ini masyarakat dunia memasuki era yang dikenal sebagai era informasi dan globalisasi.  Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang transportasi dan telekomunikasi telah membuat dunia terasa semakin kecil.  Ditemukannya pesawat terbang dengan kecepatan tinggi telah membuat bepergian ke luar negeri menjadi makin mudah, makin cepat, dan makin nyaman.  Demikian pula, kemajuan teknologi telekomunikasi telah membuat hubungan telepon antar negara, misalnya antara ibu yang sedang menunaikan ibadah haji di Makkah dengan putranya yang tinggal di suatu kota kecil di Indonesia, menjadi amat mudah dan terasa tak terpisahkan oleh jarak yang jauh.


   Era globalisasi di bidang ekonomi telah memaksa beberapa negara untuk melakukan perjanjian perdagangan bebas lintas negara. Perdagangan bebas adalah suatu situasi di mana arus lalu-lintas barang, jasa, dan manusia dari dan ke suatu negara di dunia ini tidak mengalami hambatan yang berarti.  Contoh perjanjian antar negara mengenai perdagangan bebas antar negara-negara yang bersangkutan : AFTA yang berlaku pada tahun 2003;  APEC pada tahun 2010 untuk negara maju dan 2020 untuk negara berkembang.

   Pada tahun 2003, produk barang dan jasa serta tenaga kerja dari Singapura (dan negara Asean lainnya) akan tidak dipersulit untuk diperdagangkan (bekerja) di Indonesia, demikian pula sebaliknya.  Pada tahun 2010, negara maju yang tergabung dalam APEC harus membuka pintunya bagi arus masuk produk barang, jasa, dan tenaga kerja dari negara anggota APEC lainnya dan pada tahun 2020 semua negara anggota APEC harus menghilangkan segala hambatan bagi masuknya arus barang, jasa dan tenaga kerja.

Peluang dan Ancaman

   Keadaan seperti itu akan menimbulkan peluang dan ancaman bagi bangsa Indonesia.  Peluang itu berupa makin mudahnya barang dan jasa produksi Indonesia untuk memasuki pasaran luar negeri.  Hambatan non-tarif (kuota, dsb.) bagi produk Indonesia ke negara lain akan makin tidak berarti.  Demikian pula, tenaga kerja Indonesia dapat bekerja dengan mudah di negeri asing tanpa hambatan peraturan imigrasi yang berarti.

 

   Namun, di sisi lain, keadaan itu juga dapat menimbulkan ancaman bagi Indonesia: barang, jasa, dan tenaga kerja asing boleh masuk ke Indonesia dengan tanpa hambatan yang berarti.  Akan terjadi persaingan kualitas barang, jasa, dan tenaga kerja dalam negeri dan luar negeri guna merebut pasar dalam negeri.

   Dalam persaingan di bidang perdagangan, mereka yang akan menang adalah yang memiliki keunggulan di bidang:

  • Kualitas barang produk dan jasa;
  • Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi;
  • Modal.

Di sinilah persoalan yang dihadapi negara berkembang seperti Indonesia ini.  Pada umumny, kita masih ketinggalan dalam tiga hal tersebut.  Tantangannya, mampukah kita menghadapi persaingan bebas seperti itu?  Bisakah kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri?  Atau, haruskah kita menjadi penonton (bukan pemain) dalam pentas perekonomian di negeri sendiri?

Untuk dapat ‘survive’ dalam era perdagangan bebas, suatu negara harus mempunyai SDM berkualitas dalam jumlah yang cukup banyak.  Di sinilah pentingnya peran pendidikan nasional.

Dalam kaitannya dengan PTAI sebagai lembaga pendidikan Islam, maka pertanyaan yang muncul adalah “bagaimana format pendidikan di PTAI agar ia dapat tetap bertahan hidup dan ikut memberi sumbangan yang berarti bagi penyiapan SDM yang siap hidup dan memanfaatkan peluang yang ditimbulkan oleh perdagangan bebas?”

Syarat agar PTAI dan lulusannya dapat survive di era perdagangan bebas

  1. Harus dapat merebut ‘pasar’ dalam dan luar negeri;
  2. Dalam melaksankan program pendidikannya, wawasan (outlook) PTAI dan lulusannya harus tidak terbatas pada pasar dalam negeri saja tetapi juga pasar luar negeri (kawasan ASEAN di tahun 2003 dan kawasan Asia Pasifik di tahun 2010).  Artinya, PTAI harus berkeinginan dan berusaha agar orang asing berminat untuk belajar di PTAI dan lulusan PTAI juga harus berkeinginan dan berusaha untuk bekerja di luar negeri.
  3. Harus jeli melihat peluang yang muncul, baik di dalam maupun di luar negeri.
  4. Harus mengutamakan mutu yang memenuhi standar masyarakat internasional.

Mungkinkah itu dilakukan?

   Di zaman yang makin mengarah kepada industrialisasi ini, mungkinkah PTAI masih diminati oleh masyarakat yang juga makin cenderung untuk mengkaitkan pendidikan dengan pekerjaan di masa depan?  Haruskah PTAI mengubah dirinya menjadi Universitas sehingga dapat membuka Fakultas Teknologi dan Ekonomi yang sedang laris?

   Menurut saya, tanpa mengubah main business PTAI, yakni menyiapkan ahli agama, pun akan tetap dapat survive dan memiliki segmen pasar di pentas dunia.  Alasannya:
* Agama (terlebih Islam) masih akan tetap dibutuhkan oleh manusia di negara mana pun dan dalam era atau situasi apapun.
* Pasar di luar negeri saat ini masih terbuka luas, baik di tingkat ASEAN maupun di Asia, Pasifik, dan Eropa.  Kebutuhan akan pendidik agama Islam, da’i, imam masjid, imam tentara, dan ahli tentang Islam di negeri Barat (seperti di AS dan Eropa) saat ini makin meningkat dan mungkin akan terus meningkat seiring dengan makin banyaknya pemeluk agama Islam di negeri tersebut.  Demikian pula di negeri ASEAN.
* Dalam hal persaingan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu, Islam Indonesia memiliki kelebihan (competitive advantage) karena dikenal sebagai Islam yang lebih sejuk jika dibandingkan dengan Islam dari Timur Tengah (faktor budaya bangsa).

Langkah yang perlu dilakukan PTAI

   Untuk mewujudkan kemungkinan seperti di atas, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh PTAI:
1. Menetapkan sasaran (tujuan) yang ingin dicapai secara jelas.  Ada lima kriteria bagi perumusan tujuan yang efektif: (a) specific; (b) measurable; (c) challenging; (d) realistic; (e) stated completion date.  Contoh:  “dalam jangka lima tahun mendatang, 50% dari alumni PTAI Kediri mampu membaca kitab kuning tanpa banyak kesulitan.”  Atau, “dalam waktu tujuh tahun mendatang, sedikitnya ada seorang lulusan PTAI yang dapat bekerja sebagai ahli agama di Malaysia.”
2. Setelah tujuan itu ditetapkan dengan jelas, maka langkah berikutnya adalah membuat rencana untuk mewujudkan tujuan tersebut.  Dalam penyusunan rencana ini, kita menghitung ‘kekuatan’ dan ‘kelemahan’ kita dalam hal SDM, dana, fasilitas, dsb.  Dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan kita, maka kita dapat mengusahakan untuk mengoptimalkan kekuatan kita itu dan meminimalkan pengaruh kelemahan kita.  Sesudah itu kita membuat program pencapaian tujuan berdasarkan analisa kelemahan dan kekuatan itu.  Dalam pendidikan, program pencapaian tujuan ini biasanya berupa kurikulum.  Program pendidikan ini meliputi semua kegiatan, baik yang di dalam kelas maupun yang di luar kelas (termasuk kegiatan intra-organisasi mahasiswa).  Semua kegiatan ini harus disinergikan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

3. Untuk menghadapi era pasar bebas, kurikulum PTAI harus diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang berwawasan global dan siap bertarung dalam kancah persaingan global.  Untuk dapat menjadi lulusan seperti itu, maka lulusan PTAI di masa depan harus:

  • Mampu menggunakan Bahasa Arab, Inggris, dan bahasa internasional lain sebagai alat komunikasi antar bangsa;
  • Menguasai ilmu keislaman secara mantap dan komprehensif dengan standar yang diinginkan oleh masyarakat internasional;
  • Memiliki wawasan dan sikap keilmuan yang mantap, mengingat pendektan ilmiah kini telah menjadi bahasa pemikiran internasional;
  • Memiliki wawasan global;
  • Memiliki sikap kemandirian dan kewirausahaan (entrepreneurship);
  • Professional dalam bidangnya.

Mungkinkah langkah itu dapat dilakukan?
    
    Kenyataan yang sering terjadi adalah banyak saran yang bagus dan diterima oleh para penentu kebijakan di PTAI dan Depag tetapi ketika sampai pada tahap pelaksanaan, biasanya saran itu tidak ketahuan rimbanya karena kendala birokrasi.  Apakah saran tersebut realistis? Tidak sekedar utopia, impian muluk yang tak akan pernah dapat direalisasikan?
    
    Menurut saya, hal itu dapat dilaksanakan asal ada ‘kemauan’ dari fihak tri-sivitas akademika PTAI.  Kurikulum PTAI tahun 1997 (1995 yang disempurnakan) memungkinkan pencapaian tujuan itu.  Kurikulum PTAI 1997 telah menyebutkan profil lulusan PTAI yang diharapkan sebagai berikut:

  • Memiliki wawasan kebangsaan yang mantap;
  • Memiliki wawasan keilmuan yang mantap;
  • Memiliki pengetahuan dan wawasan keislaman yang mantap;
  • Profesional dalam bidangnya;
  • Menguasai bahasa Arab dan Inggris;
  • Memiliki keahlian tambahan di luar bidang pokoknya.

Relevansi mata kuliah yang diberikan dalam kurikulum nasional dengan profil tersebut juga dapat dilihat dengan jelas:

  • Untuk membina wawasan kebangsaan diberikan matakuliah Pancasila dan Kewiraan;
  • Untuk membina wawasan keilmuan diberikan matakuliah Filsafat, Metodologi Penelitian, IAD, ISD, dan IBD.
  • Untuk membina pengetahuan dan wawasan keislaman, diberikan mata kuliah Metodologi Studi Islam, Ushul Fiqh, Ulumul Qur’an, Ulumul Hadith, Ilmu Kalam, Ilmu Tasauf, Fiqh, Hadith, Tafsir, dan Sejarah dan Peradaban Islam.
  • Untuk membina profesionalitas lulusan, diberikan mata kuliah yang relevan dengan Fakultas dan Jurusannya.
  • Untuk membina ketrampilan berbahasa Arab dan Inggris, diberikan matakuliah bahasa Arab dan Inggris yang cukup banyak (masing-masing 12 sks, termasuk yang ada di dalam kurikulum lokal).
  • Ketrampilan/keahlian tambahan dapat diperoleh melalui kurikulum lokal (ada sebanyak minimum 57 sks).


Jadi, secara birokratis dan akademis tidak ada hambatan bagi PTAI untuk mengembangkan diri menjadi perguruan tinggi yang berwawasan global.  Tinggal apakah ada kemauan (political will) dari mereka yang bertanggung jawab (pimpinan dan dosen) di PTAI masing-masing.  PTAI bisa memainkan kurikulum lokal (minimum 57 sks) untuk menanamkan wawasan global (studi kawasan, studi bangsa-bangsa tertentu), wawsan entrepreneurship, dan ketrampilan alternatif atau tambahan.
   
Beberapa hal yang perlu diperhatikan

1. Perlunya standarisasi kualitas

Sederet nama matakuliah yang bagus tidak akan ada artinya kalau kualitasnya tidak memenuhi standar yang diinginkan masyarakat.  Oleh karena itu, perlu ditetapkan standar yang mantap untuk semua mata kuliah yang diberikan.  Misalnya, apa standar penguasaan ilmu-ilmu Al-Qur’an (Ulumul Qur’an) yang diinginkan (yang dijanjikan kepada) masyarakat untuk tingkat S-1, S-2, dan S-3.?  Standar penguasaan ilmu yang jelas dan dapat diukur (measurable) akan memudahkan PTAI untuk mengukur apakah usaha mereka telah berhasil atau belum dan, kalau belum, apa yang harus dilakukan untuk memperbaiki kinerjanya itu?

2. Perlunya prinsip efisiensi

Efisien berarti mencapai tujuan dengan penggunaan daya (tenaga, fikiran, waktu, dan dana) yang sehemat mungkin.  Mengingat jumlah sks dalam kurikulum itu terbatas dan waktu studi juga terbatas (diusahakan sebagian besar mahasiswa dapat selesai dalam 8 semester), maka harus diusahakan agar tidak ada isi mata kuliah yang tumpang tindih dan berulang dalam beberapa mata kuliah yang berbeda (bersinggungan dengan sudut tinjauan yang berbeda diperbolehkan).  Prinsip belajar tuntas juga mengharuskan kita mengusahakan agar seluruh cakupan materi dalam suatu ilmu dapat diselesaikan secara tuntas dalam perkuliahan satu semester (jangan satu materi di bagi menjadi beberapa semester tanpa kesatuan unit yang jelas).  Pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh mahasiswa hendaknya dapat dituntaskan dalam matakuliah kurikulum nasional sehingga kurikulum lokal dapat digunakan untuk program remedial, pendalaman, dan pengayaan (pemberian nilai tambah seperti yang tersebut di atas).

3. Perlunya mempertahankan relevansi kurikulum

Kurikulum PTAI harus diusahakan agar tetap relevan dengan kebutuhan riil masyarakat.  Untuk ini perlu sering dilakukan ‘penelitian pasar’ atau ‘need assessment’.  Hal ini dimaksudkan agar PTAI tetap relevan keberadaannya di masyarakat umum.  Konsekuensinya, isi kurikulum PTAI akan selalu berubah sesuai dengan perubahan kebutuhan (tuntutan) masyarakat.

4. Perlu ada reformasi PBM (Proses Belajar Mengajar)

PBM di PTAI harus diorientasikan ke ‘mengajari mahasiswa mengail ikan’ bukan ‘memberi ikan kepada mahasiswa.’  Dosen harus lebih bersikap dan berfungsi sebagai trainer daripada pemberi informasi (itu fungsi guru SD!).

Untuk ‘melatih mahasiswa mengail ikan (d.h.i. mencari ilmu), mahasiswa harus dilatih untuk mencari dan mengolah informasi guna menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu fikiran mereka (ingin mereka ketahui).  Ini adalah proses research.  Dosen harus bertindak sebagai penggelitik rasa ingin tahu mahasiswa, motivator mahasiswa untuk mencari dan mengolah informasi yang telah tersedia, dan pemberi umpan balik atas hasil usaha mahasiswa itu.  PBM di PTAI harus diubah dari ‘classroom centered’ menjadi ‘library centered’. Ini tentunya memerlukan perpustakaan yang cukup lengkap, nyaman, dan user friendly.

5. Perlunya menciptakan lingkungan akademis yang mendukung

Untuk mendukung prestasi akademis mahasiswa, PTAI perlu menciptakan lingkungan yang mendukung proses belajar mengajar yang dapat mempermudah tercapainya sasaran di atas.  Hal ini meliputi:

  • Sikap dan perilaku dosen.  Dosen adalah ujung tombak yang amat menentukan keberhasilan pencapaian sasaran yang telah ditetapkan.  Mereka harus memiliki kompetensi dosen.  Untuk meningkatkan kompetensi dosen ini perlu diadakan penataran-penataran dan peraturan-peraturan.
  • Manajemen PTAI.
  • Perpustakaan.
  • Kegiatan ilmiah: diskusi dosen dan mahasiswa harus banyak dan bermutu (bukan sekedar ada).
  • Perilaku akhlaq karimah warga kampus.
  • Kebersihan dan keindahan lingkungan fisik kampus.
  • Biro bantuan informasi lowongan kerja di dalam dan di luar negeri.
  • Sikap dan wawsan mahasiswa harus diusahakan agar berorientasi ke depan, global, keilmuan, keislaman, dsb.

Kendala yang mungkin menghadang

Kendala yang diperkirakan akan menghambat usaha reformasi program pendidikan di PTAI  adalah:

  1. Etos kerja pegawai negeri yang umumnya tidak optimal.  Pegawai negeri umumnya bekerja untuk cari nafkah dan baru bergerak kalau ada dana.  Padahal,  kalau mereka bekerja di lembaga pendidikan islam swasta, kadang-kadang mereka mau berkorban.
  2. Budaya mudah menyerah kepada keadaan, merasa tidak berdaya.  Bagaimana mungkin orang yang tidak berdaya menghadapi keadaan yang ada dapat memberdayakan orang lain (mahasiswa)?
  3. Budaya tidak sampai hati untuk menindak bawahan yang tidak melakukan tugas dan fungsinya dengan semestinya (memenuhi standar).  Sikap tenggang rasa penuh rasa kasihan ini memang menguntungkan bagi para bawahan (sesama pegawai negeri yang rata-rata gajinya kecil) akan tetapi mengorbankan orang lain (mahasiswa yang, notabene, membuat mereka mempunyai pekerjaan).
  4. Lingkungan PTAI yang selama ini tidak mementingkan visi ke depan, keilmuan, penghayatan dan pengamalan perilaku islami, dan profesionalisme.

Penutup

    Makalah ini berusaha mengulas masalah peluang dan ancaman yang dihadapi oleh PTAI dalam era perdagangan bebas.  Makalah dimulai denan membahas apa itu perdagangan bebas dan apa peluang dan ancaman yang ditimbulkan olehnya bagi bangsa Indonesia.  PTAI dipilih sebagai kasus nyata lembaga pendidikan Islam yang harus menghadapi tantangan itu.  Makalah ini akhirnya memberikan saran tindakan apa yang harus dilakukan PTAI agar dapat survive di era perdagangan bebas yang pasti datang itu.

Wallahu a’lam bissawab.

DAFTAR BACAAN

Centra, John A. 1979.  Determining Faculty Effectiveness. San Francisco : Jossey-Bass Publishers.

Departemen P dan K.   1995.  50 Tahun Pendidikan di Indonesia.  Jakarta: Departemen P dan K.

Eisner, Elliot W.  1982.  Cognition and Curriculum: A Basis for Deciding What to Teach.  New York & London: Longman.

Lewy, Arieh, ed. 1977. Handbook of Curriculum Evaluation.  Paris: UNESCO.

Resnick, Lauren B. and Klopfer, Leopold E. (eds.) 1989.  Toward the Thinking Curriculum: Current Cognitive Research.  USA: ASCD.

Tilaar, H. A. R.  1995.  50 Tahun Pembangunan Pendidikan Nasional 1945-1995: Suatu Analisis Kebijakan.  Jakarta : Rasindo.


i Pidato ilmiah, disampaikan pada Wisuda Sarjana STAIN Kediri, 25 Maret 1999.
ii Pembantu Rektor I, IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Last Updated on Wednesday, 09 December 2009 09:11