Home Makalah Makalah Tertulis MEMANFAATKAN KURIKULUM LOKAL

Main Menu

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 854250
MEMANFAATKAN KURIKULUM LOKAL PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Tuesday, 24 November 2009 23:00

 

MEMANFAATKAN KURIKULUM LOKAL
GUNA MENINGKATKAN DAYA SAING
LULUSAN DAN IAIN


Oleh:
Arief Furchan i


A.  Tantangan yang kita hadapi    
1.  Jangka pendek : BAN
Apakah kita dapat lulus dalam akreditasi?  Kalau tidak, citra kita sebagai sebuah perguruan tinggi di mata masyarakat akan rusak.
2.  Jangka panjang : eksistensi

  • Apakah kita akan tetap diminati masyarakat?  Lulus BAN merupakan syarat minimal agar kita dapat tetap diminati masyarakat.  Tetapi yang lebih menentukan adalah apakah kita memberikan kualitas layanan pendidikan seperti yang dikehendaki masyarakat?  Segmen masyarakat yang mana yang menjadi sasaran kita?  Masyarakat yang serius dan ingin maju ataukah masyarakat yang mencari perguruan tinggi hanya sekedar ‘daripada menganggur’ saja?
  • Kalau kita tidak berhasil untuk menarik minat masyarakat, maka IAIN kita mungkin akan tenggelam atau hilang dari peredaran.  Gaji kita memang tetap, atau kita akan dapat pindah ke STAIN atau IAIN yang lain, tetapi IAIN kita sendiri akan tenggelam.


B. Kondisi kita saat ini
1. Masih banyak persyaratan BAN yang belum kita penuhi.
2. Daya tarik sebagian IAIN masih rendah.

  • Belum banyak menarik siswa unggulan dari SMU maupun MAN.  Kebanyakan siswa yang mendaftar ke sebagian IAIN adalah mereka yang tidak diterima di UMPTN dan memilih IAIN hanya sekedar ‘daripada tidak sekolah’ saja (hasil wawancara dengan mahasiswa dan juga hasil penelitian mahasiswa).


C. Analisa kemungkinan penyebab keadaan seperti ini

1. Perubahan orientasi masyarakat yang menganggap bahwa belajar di perguruan tinggi adalah untuk memastikan bahwa, setelah lulus nanti, mereka akan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada lulusan SMU.  Dalam hal ini mereka menganggap IAIN tidak memberikan harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan masa depan yang lebih baik.
2. Keterlambatan IAIN untuk mengantisipasi perubahan ini sehingga IAIN tidak berubah ketika keadaan atau tuntutan masyarakat berubah.
3. Walaupun sarjana agama masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat, tetapi tampaknya kualitas sarjana agama yang diberikan sebagian IAIN tidak seperti yang diharapkan oleh masyarakat.  Akibatnya, banyak sarjana agama lulusan sebagian IAIN yang kesulitan untuk bekerja sesuai dengan bidang yang dipelajarinya selama berada di IAIN.

D. Pilihan kita:

1. Pasrah (berfikir negatif).  Karena tantangan begitu besar dan kemampuan kita terbatas dan tampaknya sulit sekali untuk memperbaiki keadaan ini, maka tak ada pilihan lain bagi kita kecuali menyerahkan diri kepada Tuhan saja.  Kita akan terima apa yang akan ditentukan oleh Tuhan mengenai nasib IAIN ini di masa depan.  Mudah-mudahan saja akan menjadi baik, tetapi kalaupun terpaksa harus tenggelam atau hilang dari percaturan perguruan tinggi, yah, mau apa lagi?
2. Berusaha (berfikir positif).  Fikiran ini didasari dengan keyakinan bahwa kalau kita mau berusaha kita akan berhasil. Agar eksistensi IAIN terjamin, kita tidak boleh berusaha hanya sekedar tetap hidup saja (survive), tetapi harus berusaha mengembangkan lembaga ini menjadi semakin besar dan dapat memperoleh tempat di hati masyarakat.  Asumsinya, lembaga yang berkembang pasti hidup sedangkan lembaga yang hidup belum tentu berkembang.  
3. Saya kira tak ada pilihan lain daripada berusaha agar lembaga ini tetap hidup dan bahkan berkembang lebih besar lagi. (Ini mudah dikatakan tapi memerlukan kemauan yang keras untuk dapat melaksanakannya).

E. Strategi yang harus dilakukan

1. Jangka pendek : harus dapat memperoleh akreditasi dari BAN minimal masuk kategori B.  Usaha ini dilakukan dengan mengusahakan agar IAIN dapat memenuhi kriteria BAN untuk kategori A.  Usaha ini sedang dilakukan oleh PR I bersama PD I dan akan mengikut sertakan Dekan beserta semua staf Fakultas dan Jurusan.
2. Jangka menengah dan panjang : mengusahakan agar IAIN dapat menarik minat masyarakat lebih banyak lagi.  Hal ini diukur dari banyaknya jumlah siswa yang mendaftar ke IAIN yang setiap tahun diharapkan lebih banyak dari tahun sebelumnya (ini juga ukuran dalam borang BAN).  Diharapkan, di tahun mendatang, tidak ada jurusan yang menerima mahasiswa lebih banyak dari jumlah mahasiswa yang mendaftar ke jurusan tersebut.  Usaha ini dilakukan dengan membuat program layanan pendidikan yang menarik minat masyarakat melalui berbagai kreativitas.  Misalnya, dengan memberikan berbagai program remedial yang memungkinkan setiap mahasiswa, dengan latar belakang apapun, dapat mencapai standar minimal lulusan IAIN sesuai dengan harapan masyarakat.ii  Dalam hal ini, banyaknya sks dalam kurikulum lokal amat membantu.
      Banyak yang harus dilakukan untuk membuat program layanan pendidikan IAIN menarik bagi masyarakat.  Pembenahan yang menyeluruh meliputi penajaman kurikulum jurusan, penataan kebersihan dan keindahan lingkungan kampus, pengadaan fasilitas belajar yang lebih mendukung, peningkatan kinerja dosen dan pegawai administratif, peningkatan kualitas perkuliahan,  penciptaan lingkungan kampus yang mendorong mahasiswa untuk berprestasi, peningkatan citra IAIN di masyarakat sebagai suatu perguruan tinggi yang berkualitas dan memberikan harapan, dsb.  Namun, pada lokakarya kali ini, kita akan memusatkan perhatian kita pada upaya ‘bagaimana memanfaatkan kurikulum lokal guna meningkatkan daya saing lulusan IAIN dalam merebut pasaran kerja (mendapatkan tempat pengabdian) dan daya saing IAIN sendiri dalam menarik minat masyarakat.’

 MEMANFAATKAN KURLOK UNTUK MENINGKATKAN DAYA SAING LULUSAN DAN IAIN

A. Asumsi (Dasar Pemikiran)

1. Daya saing lulusan IAIN akan meningkat apabila ia memiliki kualitas seperti yang diharapkan oleh masyarakat serta memiliki beberapa kelebihan (nilai tambah) jika dibandingkan dengan lulusan STAIN, IAIN lain, atau Perguruan Tinggi yang lain.
2. Daya saing IAIN akan meningkat apabila lembaga ini menawarkan program layana pendidikan yang menjanjikan pemenuhan harapan masyarakat serta memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi alumninya.
3. Kunci dari dua hal di atas adalah kualitas lulusan yang memenuhi harapan masyarakat serta memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan lulusan STAIN, IAIN, atau perguruan tinggi yang lain.  Lulusan yang berkualitas dan memiliki kelebihan tambahan akan mudah untuk mendapatkan tempat pengabdian dan itu akan menimbulkan citra IAIN sebagai lembaga pendidikan yang berkualitas dan memberikan harapan.
4. Kualitas lulusan yang baik hanya akan tercapai melalui perencanaan dan pelaksanaan program perkuliahan yang baik pula.  Perencanaan program perkuliahan yang baik meliputi penataan kurikulum yang lebih terarah dan terfokus.
5. Kurikulum Jurusan merupakan salah satu program layanan pendidikan penting yang ditawarkan kepada masyarakat.  Bahkan, boleh dikatakan, kurikulum jurusan itulah sebenarnya yang menarik minat masyarakat atau yang ‘dijual’ oleh suatu lembaga pendidikan kepada masyarakat.  Hal ini dikarenakan kurikulum jurusan merupakan seperangkat program pendidikan yang akan mengantarkan peserta didik (mahasiswa) untuk menjadi seorang professional di bidangnya.  Oleh karena itu, kalau kita ingin meningkatkan daya saing lulusan di bidang profesinya, maka kurikulum jurusan ini perlu mendapatkan perhatian khusus.

B. Memandang kurikulum secara keseluruhan

Kurikulum merupakan rencana program pendidikan yang akan diberikan kepada peserta didik guna membantu mereka mencapai tujuan kurikuler yang telah ditetapkan sebelumnya.  Kurikulum yang berlaku di perguruan tinggi di Indonesia terdapat terdiri atas beberapa komponen: ada komponen kurikulum nasional (yang jenis matakuliahnya ditetapkan oleh pemerintah pusat, Dikbud atau Depag) dan ada pula komponen kurikulum lokal (yang jenis matakuliahnya ditetapkan oleh perguruan tinggi setempat); ada pula komponen kelompok MKU, MKDK, dan MKK.  Semua komponen itu merupakan bagian integral dari suatu keseluruhan kurikulum yang digunakan oleh perguruan tinggi tertentu.

    Berdasarkan teori, penyusunan kurikulum seharusnya dilakukan dengan menentukan terlebih dahulu tujuan kurikuler yang ingin dicapai.  Ini adalah gambaran mengenai profil lulusan yang bagaimana yang diharapkan akan terwujud sebagai hasil dari pendidikan tersebut. Berdasarkan profil lulusan itu, maka ditentukanlah pengetahuan, ketrampilan, dan latihan apa yang harus diberikan kepada peserta didik, seberapa banyak, dan dalam urutan bagaimana, agar profil lulusan seperti itu dapat terwujud.

    Dalam kaitannya dengan IAIN, kurikulum IAIN 1997 menetapkan profil lulusan IAIN sebagai berikut:
a. memiliki wawasan kebangsaan yang mantap;
b. memiliki wawasan keilmuan yang mantap;
c. memiliki wawasan dan pengetahuan agama yang mantap;
d. menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam secara mantap;
e. memiliki kemampuan professional yang mantap;
f. memiliki kemampuan untuk menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris dengan lancar;
g. memiliki kemampuan tambahan yang bernilai lebih.

Berdasarkan profil lulusan di atas, maka ditetapkanlah matakuliah (pengetahuan, ketrampilan, dan sikap) yang diperlukan agar profil tersebut dapat terwujud.  Wawasan kebangsaan yang mantap akan diwujudkan melalui pemberian matakuliah Pancasila dan Kewiraan; wawasan keilmuan akan diwujudkan melalui matakuliah Filsafat dan Metodologi Penelitian; wawasan dan pengetahuan agama Islam yang mantap akan diwujudkan melalui pemberian matakuliah agama dalam MKDK;  penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam akan diwujudkan melalui perkuliahan agama dan penciptaan lingkungan; kemampuan untuk menggunakan bahasa Arab dan Inggris akan diwujudkan melalui perkuliahan bahasa Arab dan Inggris; kemampuan profesional akan diwujudkan melalui matakuliah jurusan; dan kemampuan tambahan yang bernilai lebih akan diwujudkan melalui program pengayaan dalam kurikulum lokal.

    Kecuali kemampuan tambahan yang bernilai lebih (profil g), semua unsur dalam profil itu telah tercakup dalam kurikulum nasional, tentu saja dalam standar minimal yang diharapkan oleh masyarakat.  Semua matakuliah dalam kurikulum nasional ini bersifat wajib, harus diambil oleh setiap mahasiswa IAIN.  Jumlah sks untuk kurnas ini adalah 87 sks yang merupakan 60% dari jumlah minimal sks yang harus ditempuh mahasiswa untuk menyelesaikan program S-1.  Sisanya, sejumlah 57 sks atau maksimum 73 sks, merupakan kurikulum lokal yang jenis matakuliahnya ditentukan oleh IAIN/STAIN setempat.  Tidak ada pedoman dari pusat mengenai bagaimana menentukan matakuliah untuk kurikulum lokal ini.  Semuanya terserah IAIN/STAIN setempat.  Kebebasan ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan, keluwesan, dan merangsang kreativitas IAIN/STAIN setempat guna merespons perubahan tuntutan masyarakat yang dihadapi.  Melalui kurlok inilah setiap IAIN/STAIN akan dapat meningkatkan daya saing lulusan maupun daya saing lembaga dalam menarik minat masyarakat.

C. Teknik memanfaatkan kurlok

Bagaimana kita dapat memanfaatkan kurlok untuk meningkatkan daya saing lulusan dan lembaga?

    Pada dasarnya kurlok dapat dimanfaatkan untuk program remedial dan pengayaan.  Program remedial diberikan kepada mahasiswa yang belum memenuhi standar awal untuk mengikuti program dasar yang diberikan melalui kurnas.  Misalnya, kalau ada mahasiswa IAIN yang berasal dari SMU dan kurang menguasai bahasa Arab, atau belum fasih membaca Al-Qur’an, maka mahasiswa tersebut diharuskan mengikuti program kuliah remedial untuk menutupi kekurangan itu.  Program ini wajib bagi mereka yang memerlukan, tetapi tidak wajib bagi yang sudah memenuhi standar awal tersebut.  Dengan demikian, matakuliah dalam kurnas dapat diarahkan untuk mengantarkan mahasiswa mencapai standar yang dikehendaki masyarakat.

    Mahasiswa yang tidak mengambil program remedial, tentu akan memiliki kekurangan sks untuk menyelesaikan program studinya.  Kepada mahasiswa seperti ini diberikan jalan keluar dengan menawarkan kepada mereka program-program pengayaan yang akan memberi mereka nilai lebih jika dibandingkan dengan lulusan lain.  Pengayaan ini dapat bersifat pendalaman, yakni program matakuliah yang dimaksudkan untuk lebih mendalami ilmu yang telah diberikan dalam kurnas, atau bersifat tambahan, yakni program matakuliah yang akan membuat mereka memiliki kemampuan tambahan di samping profesi utama mereka (misalnya, kemampuan untuk mengajar bagi mahasiswa Fak. Ushuluddin).  Program pengayaan ini bersifat pilihan, hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang berminat saja.  Demi efisiensi, maka paket pengayaan ini dapat diambil secara lintas fakultas dan jurusan.  Artinya, mahasiswa dari Fakultas manapun dan Jurusan apapun di IAIN Sunan Ampel ini dapat mengambil paket pengayaan ini di Fakultas apapun dan Jurusan apapun.  Pada saatnya nanti, program lintas Fakultas dan Jurusan ini akan diberlakukan juga untuk matakuliah dalam kelompok MKU dan MKDK.  Hal ini ada kaitannya dengan usaha untuk menarik minat masyarakat melalui penawaran program pendidikan yang luwes.

D. Bagaimana merancang program remedial dan pengayaan

Untuk merancang program remedial, yang pertama harus kita lakukan adalah mengetahui standar kemampuan awal yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa untuk dapat mengikuti (berdasarkan ukuran kemampuan, bukan formalitas) matakuliah dalam kurnas.  Standar kemampuan awal akan dipakai sebagai standar kemampuan akhir program remedial.  Sebagai contoh, untuk dapat mengikuti matakuliah Ulumul Qur’an dengan tanpa kesulitan, mahasiswa harus mampu membaca Qur’an dengan lancar.  Oleh karena itu, kalau ada mahasiswa yang masih belum lancar membaca Qur’an, dia harus mengikuti program remedial membaca Qur’an dulu sebelum dia diizinkan mengambil matakuliah Ulumul Qur’an tersebut.  Bisa juga kita menetapkan, misalnya, bahwa mahasiswa yang akan mengambil matakuliah Tafsir harus sudah mampu membaca kitab tafsir dalam bahasa Arab karena rujukan dalam matakuliah itu banyak menggunakan kitab berbahasa Arab.  Dengan prasyarat ini, maka mahasiswa yang belum mampu membaca kitab berbahasa Arab harus mengikuti program remedial membaca kitab dulu sebelum diizinkan untuk mengambil matakuliah Tafsir tersebut.

    Untuk merancang program pengayaan, yang perlu kita ketahui adalah standar kemampuan akhir yang ingin dicapai.  Program pengayaan ini dapat berupa satu matakuliah ataupun satu paket matakuliah.  Contoh program pengayaan yang terdiri atas satu matakuliah adalah matakuliah Fiqh Sosial, yang merupakan pendalaman dari matakuliah Fiqh secara umum yang ada dalam kurnas.  Contoh program paket matakuliah adalah program pendidikan guru bahasa Inggris, program pendidikan konsultan agama, program pendidikan da’i, program pendidikan panitera pengganti di peradilan agama, dsb. yang terdiri atas beberapa matakuliah yang berkaitan satu sama lain.

    Prosedur untuk menentukan paket program pengayaan ini sama dengan prosedur untuk menentukan paket matakuliah jurusan, yakni:

1) ditentukan dulu profil lulusan yang diharapkan;
2) analisa mengenai kemampuan, ketrampilan, dan sikap yang perlu dimiliki agar profil tersebut dapat terwujud;
3) penentuan matakuliah yang harus diberikan agar mahasiswa memiliki kemampuan, ketrampilan, dan sikap seperti yang telah ditetapkan itu.

Penentuan matakuliah ini harus disertai dengan analisa mengenai relevansi (keterkaitan) matakuliah tersebut dalam upaya mewujudkan profil lulusan yang telah ditetapkan, cakupan topik yang harus diberikan dalam matakuliah tersebut beserta arah dan tekanan topik ybs., serta standar kemampuan minimal yang harus dicapai oleh setiap mahasiswa agar dapat dianggap telah mendapatkan pendidikan untuk itu (tujuan instruksional secara operasional).

 PENUTUP

Lokakarya ini sebenarnya dimaksudkan untuk merancang program matakuliah yang ada di dalam kurlok.  Namun, melihat keadaan di lapangan, saya ingin memanfaatkan untuk sekaligus mempertajam arah kurikulum Jurusan yang ada di IAIN ini.  Ada beberapa alasan mengapa hal ini saya anggap perlu:

1. Sebagai salah satu penyusun konsep kurikulum IAIN/STAIN tahun 1997, saya merasa bahwa penentuan matakuliah yang masuk ke komponen (kurikulum) jurusan masih belum melalui analisa yang tajam.  Walaupun saya berani mengatakan bahwa matakuliah yang masuk komponen MKU dan MKDK sudah melalui diskusi yang mendalam, saya berani mengatakan bahwa matakuliah yang masuk ke komponen jurusan tidak melalui diskusi yang tajam.  Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu dan keterbatasan ahli dalam tim konseptor itu yang mengetahui betul seluk beluk semua jurusan.
2. Keluhan mahasiswa di lapangan, misalnya Fakultas Syariah, yang menunjukkan kurang tajamnya perbedaan antar beberapa jurusan.  Menurut laporan mahasiswa, dan juga Dekan Fak. Syariah, perbedaan antar beberapa jurusan di Fak. Syariah hanya 20%.  Ini barangkali karena penentuan matakuliah dalam komponen jurusan itu tidak dilakukan melalui prosedur yang benar, yang dimulai dengan analisa profil lulusan.

Berdasarkan hal itu, maka dalam lokakarya ini kami mengharapkan agar paket matakuliah jurusan (profesi) ini juga dibenahi.  Dengan demikian, diharapkan agar lokakarya ini akan menghasilkan :

1. Paket matakuliah jurusan yang lebih tajam, yang disertai dengan profil lulusan, analisa keterkaitan matakuliah yang dimasukkan ke dalam paket itu dengan profil lulusan itu, dan standar kemampuan minimal yang akan dikuasai mahasiswa sebagai hasil dari pemberian matakuliah tersebut.
2. Paket matakuliah pengayaan, yang bersifat pendalaman ataupun pengayaan untuk masing-masing jurusan.  Paket matakuliah pengayaan ini akan merupakan paket unggulan bagi setiap jurusan yang ada di IAIN dan boleh diambil oleh mahasiswa dari jurusan dan Fakultas lain.  Paket program pengayaan ini harus disertai juga dengan profil lulusan, analisa keterkaitan matakuliah yang dimasukkan ke dalam paket itu dengan profil lulusan yang dimaksud, serta standar kemampuan minimal yang akan dikuasai oleh mahasiswa sebagai hasil dari pemberian matakuliah tersebut.

PEDOMAN PENGEMBANGAN
PAKET PENDIDIKAN


1. Bagaimanakah profil mahasiswa yang telah menyelesaikan paket pendidikan ini?  (Kemampuan, ketrampilan, dan sikap apa yang akan mereka miliki sebagai hasil dari program paket pendidikan ini?)
2. Matakuliah apakah yang diperlukan untuk memudahkan terwujudnya profil mahasiswa seperti itu?  Berikan profil lulusan dari setiap matakuliah itu sehingga tampak relevansinya dengan profil lulusan paket program pendidikan tersebut.

----

catatan: Artikel ini adalah adaptasi dari makalah yang pernah eulis sampaikan dalam kur;ok peningkatan mutu lulusan IAIN Sunan Ampel Surabaya sewaktu penulis menjbat sebagai PR I. 

i Pembantu Rektor I, IAIN Sunan Ampel.
ii Ini berarti IAIN harus menetapkan bagaimana standar minimal itu.  Standar minimal itu harus ditetapkan berdasarkan  harapan masyarakat, bukan berdasarkan ‘apa adanya kemampuan kita saat ini’ atau ‘apa adanya kemampuan mahasiswa saat ini’.

Last Updated on Thursday, 03 December 2009 00:05