Home Makalah Makalah Tertulis MEMBINA SDM UMMAT

Main Menu

Key Concepts

Anda adalah pengunjung ke

Content View Hits : 856228
MEMBINA SDM UMMAT PDF Print E-mail
Written by Arief Furchan   
Thursday, 03 December 2009 08:37

MEMBINA SDM UMMAT MELALUI

PENINGKATAN KUALITAS MADRASAH

    Oleh:
    Arief Furchan
    (Pembantu Rektor I UNISMA, Malang)

 


Pendahuluan
    Berbicara masalah madrasah adalah berbicara tentang sesuatu yang penting.  Hal ini karena pendidikan adalah usaha sadar suatu bangsa untuk membentuk generasi masa depan bangsanya.  Apa yang diberikan oleh bangsa itu kepada anak-anak mereka lewat pendidikan itulah yang akan menentukan arah perkembangan bangsa itu di masa depan.  Di banyak neagara, pendidikan formal telah dipakai untuk menanamkan ideologi, pandangan hidup, dan cita-cita bangsa itu kepada generasi mudanya.  Di Amerika, faham liberalisme dan kebebasan individu juga disosialisasikan melalui jalur pendidikan formal.  Demikian pula dengan faham komunisme di Uni Soviet sebelum serikat itu bubar.  Di negara kita sendiri, Indonesia, pendidikan juga merupakan salah satu jalur pemasyarakatan ideologi negara, Pancasila.

    Madrasah adalah perkembangan dari pesantren, suatu lembaga pendidikan keagamaan yang konon bentuknya sudah dikenal penduduk nusantara sejak zaman Hindu-Budha.  Di masa lalu, pesantren ini hanya mengajarkan pengetahuan agama dan melatih santrinya untuk hidup secara Islami.  Dalam perkembangannya, pendidikan agama ini kemudian memodernisir dirinya menjadi madrasah dengan menggunakan bangku dan papan tulis dan memasukkan pelajaran umum dalam kurikulumnya.  Sebagian ummat Islam bahkan mendirikan sekolah Islam  dengan kurikulum yang 90 persen mirip kurikulum sekolah umum yang didirikan Belanda.


    Usaha bangsa Indonesia untuk memodernisasi dirinya agar sejajar kesejahteraannya dengan bangsa-bangsa yang sudah maju telah mengakibatkan dipilihnya pembangunan nasional yang menuju ke arah industrialisasi.  Untuk itu bangsa Indonesia harus menguasai iptek modern sehingga pembangunan nasional itu tidak akan dikuasai oleh bangsa asing.  Mengingat 85 persen bangsa ini adalah Muslim, maka itu berarti bahwa ummat Islam inilah yang diharapkan menguasai iptek modern tersebut agar merekalah yang akan menentukan arah pembangunan bangsa ini.


    Dalam konteks inilah peranan madrasah menjadi sangat penting.  Madrasah adalah lembaga pendidikan yang tumbuh dari dan dikelalola oleh ummat Islam.  Di samping bertujuan untuk mencerdaskan bangsa, kebanyakan madrasah juga mempunyai missi untuk mendidik anak muridnya agar menjadi Muslim yang baik, yakni yang taat beribadah dan berakhlak mulia. Lingkungan madrasah yang relatif homogen memungkinkan penanaman akidah Islamiyah yang lebih intens daripada lingkungan sekolah umum yang siswanya yang relatif heterogen.  Banyaknya lulusan madrasah yang menempati posisi di pemerintahan, perekonomian, serta bidang-bidang kehidupan masyarakat lainnnya akan memberikan warna dan arah yang tentunya sangat berbeda seandainya posisi itu ditempati oleh orang yang tidak berperilaku Islami.


Tantangan Yang Dihadapi Madrasah


    Namun, tantangan yang dihadapi oleh madrasah dalam menjalankan missinya bukanlah kecil. Tang pertama adalah berubahnya orientasi masyarakat dalam hal pendidikan.  Persiapan menuju era industrialisasi telah menyebabkan orientasi pendidikan masyarakat berubah dari 'belajar untuk mencari ilmu' menjadi 'belajar sebagai persiapan memperoleh pekerjaan'. Ini adalah dampak dari makin tersebarnya pendidikan Barat yang sejak awalnya di Indonesia memang berorientasi kepada 'mendapatkan pekerjaan'.  Kecenderungan ini kini juga sudah melanda dunia karena, dewasa ini, pendidikan model Barat inilah yang diadopsi di hampir seluruh dunia.  Perubahan orientasi ini membuat sekolah umum, yang memberikan pendidikan umum lebih banyak, lebih menarik minat orang tua daripada pesantren atau madrasah (ladang lembaga pendidikan Islam).  Dampak ikutannya adalah, di masyarakat, pendidikan umum pada umumnya lebih diutamakan daripada pendidikan keagamaan.  Ini juga tercermin dalam kurikulum sekolah Menengah ke bawah tahun 1994 yang prosentase pendidikan agamanya semakin dikurangi.  Madrasah, yang semula lebih mengutamakan pelajaran agama daripada pelajaran umum, sering menjadi pontang-panting mengejar ketertinggalan mereka dari sekolah umum di bidang pelajaran umum.


    Tantangan yang ke tiga adalah kenyataan bahwa, dewasa ini, kualitas layanan pendidikan yang diberikan oleh kebanyakan madrasah masih dinilai orang lebih rendah daripada layanan pendidikan yang diberikan oleh sebagian sekolah umum, apalagi yang negeri.  Penyebab dari kekurang-mutuan ini bermacam-macam: ada yang karena manajemen (pengelolaan) pendidikannya yang kurang bagus, ada yang karena kualitas tenaga pengajarnya yang kurang baik, ada yang karena kekurangan dana untuk menjalankan operasi sehari-hari, dan ada pula yang karena ketiga-tiganya.


Beberapa Pemikiran Untuk Menjawab Tantangan Tersebut


    Berikut ini adalah beberapa pemikiran untuk menjawab tantangan yang dihadapi madrasah seperti yang dikemukakan di atas:


    Untuk menghadapi perubahan orientasi pendidikan masyarakat, tak ada jalan lain bagi madrasah kecuali memberikan apa yang diinginkan oleh masyarakat itu  Perlu diingat bahwa madrasah berderak di bidang pelayanan jasa pendidikan.  Agar layanan itu diminati orang dan memuaskan pengguna jasa, maka layanan tersebut haruslah sesuai dengan keinginan masyarakat pengguna jasa tersebut.  Karena sebagian besar masyarakat menginginkan agar anak mereka memperoleh pendidikan umum yang cukup agar mereka siap bertarung dalam usaha untuk mendapatkan pekerjaan, maka madrasah pun perlu memberikan pendidikan umum yang cukup kepada anak didiknya.


    Untuk menghadapi persaingan dengan sekolah umum, terutama sekolah umum negeri yang memberikan kualitas pendidikan umum lebih baik dan beaya yang lebih murah, madrasah harus memanfaatkan apa yang dibutuhkan masyarakat tetapi tidak diberikan oleh sekolah umum: pendidikan agama.  Di kalangan ummat Islam, masih banyak orang tua yang memandang bahwa pendidikan agama itu perlu bagi anak-anak mereka.  Di antara mereka bahkan ada yang bersedia membayar 'guru ngaji' privaat untuk melengkapi pendidikan anaknya yang diperolehnya di sekolah umum.  Ini jelas merupakan lahan bagi madrasah.


    Tentu saja, kualitas pendidikan umum dan pendidikan agama yang diberikan madrasah harus bagus dan tidak sekedar ada saja.  Mengapa?  Di samping agar madrasah itu tetap diminati masyarakat, anak Muslim yang menjadi siswa madrasah itu adalah asset ummat.  Kalau asset yang telah mau masuk ke madrasah itu tidak dibina dengan baik, maka madrasah tersebut telah menyia-nyiakan asset ummat.  Ini sama artinya dengan merugikan ummat.


    Bagaimana cara meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah yang ternyata juga menjadi salah satu tantangan itu?  Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kalau kita dapat menghilangkan faktor-faktor yang menghambat usaha peningkatan kualitas madrasah itu, maka insya Allah, kualitas itu akan otomatis meningkat.


    Salah satu faktor yang menghambat peningkatan kualitas pendidikan di madrasah adalah manajemen (pengelolaan).  Ini adalah tanggung jawab pengurus Yayasan dan Mepala Madrasah.  Kedua fihak ini, pengurus Yayasan dan Kepala Madrasah, harus kompak dan mempunyai pandangan yang sama mengenai arah dan tahap-tahap pengembangan madrasah.  Setelah kedua fihak itu kompak, langkah berikutnya adalah mengompakkan semua fihak yang terlibat dalam madrasah itu: guru,karyawan, siswa, dan orang tua siswa.  Dengan kompaknya semua fihak yang terlibat di madrasah itu, dapat diharapkan bahwa pengembangan kualitas madrasah tersebut, baik secara fisik maupun secara isi, akan menjadi lancar.


    Pengompakkan ini dapat dilakukan dengan menjalankan manajemen terbuka.  Artinya, semua fihak yang terlibat sama-sama mengetahui tentang segala persoalan yang dihadapi oleh madrasah dan rencana pengembangan selanjutnya.  Yang perlu disepakati bersama adalah sasaran yang ingin dicapai dalam suatu periodei  Sasaran ini bisa bersifat jangka panjang maupun jangka pendek.  Sasaran-sasaran jangka pendek ini harus merupakan tahap-tahap yang perlu dilalui guna mencapai sasaran jangka panjang.  Target waktu pencapaian sasaran sebaiknya juga ditetapkan agar dapat menilai apakah langkah yang selama ini diambil perlu direvisi atau dipertahankanii.  Tahap berikutnya adalah menetapkan langkah-langkah apa yang harus diambil untuk mencapai sasaran tersebut.  Setelah semuanya itu disepakati, maka hal itu harus dimasyarakatkan agar semua fihak yang terlibat di madrasah itu tahu apa yang akan dilakukan oleh pimpinan madrasah dan apa sasarannya.  Dengan demikian, mereka dapat diharapkan ikut menunjang tercapainya sasaran tersebut.  


    Penetapan sasaran-sasaran itu harus didasarkan pada kondisi madrasah yang sebenarnya dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di madrasah itu.  Setelah sasaran-sasaran itu jelas bagi semua fihak, maka tugas pimpinan madrasahlah untuk menggerakkan semua sumber daya manusia yang ada di madrasah itu untuk mencapai sasaran tersebut.


    Prioritas dan tahap-tahap pengembangan juga harus dikomunikasikan ke semua fihak: kapan dilakukan pembenahan administrasi, penambahan gedung, penataran guru, peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan kesejahteraan, dsb.  Hal ini untuk menghindari munculnya kritik dan keluhan tentang perlunya pembenahan suatu bidang yang sebenarnya sudah terfikirkan tetapi, karena keadaan, menempati prioritas yang rendah.


    Prioritas utama bagi pengembangan madrasah adalah menciptakan citra di masyarakat bahwa madrasah yang bersangkutan memiliki kualitas pendidikan yang cukup baik.  Hal ini penting karena citra ini akan mempengaruhi pilihan masyarakat apakah akan mengirimkan anaknya ke madrasah tersebut atau tidak dan ini berarti masuk atau tidaknya dana operasional madrasah itu.  Citra ini dapat diciptakan dengan a.l. penampilan gedung yang menarik, tim olah-raga atau kesenian yang sering menang dalam lomba, seragam sekolah yang menarik, guru-guru yang berkualitas, disiplin sekolah yang diterapkan, dan hasil ebtanas yang baik.  Penciptaan citra di masyarakat ini erat kaitannya dengan kegiatan promosi, suatu kegiatan yang sering diremehkan oleh madrasah.


    Gedung yang menarik, seragam sekolah, alat olah-raga dan kesenian, adalah hal bersifat fisik yang mudah diadakan apabila ada dana.  Yang lebih sukar daripada itu adalah barang non-fisik seperti kualitas lulusan.  Ini memerlukan sumber daya manusia yang baik: kepala sekolah, guru, karyawan yang professional dan input siswa yang baik.  Setelah kepala madrasah, pemilihan guru harus mendapat prioritas.  Hal ini kualitas guru mempunyai pengaruh langsung terhadap kualitas pendidikan yang diberikan oleh sekolah atau madrasah.  Guru yang baik akan dapat memanfaatkan segala keterbatasan dana dan materi guna mencapai tujuan instruksional yang telah ditetapkan dan menghasilkan lulusan yang baik.  Sebaliknya, guru yang tidak mampu mengajar dengan baik akan menyia-nyiakan segala fasilitas pendidikan yang telah tersedia.


    Yang paling mudah untuk mendapatkan guru yang baik adalah dengan merekrut guru yang sudah terbukti baik.  Namun, hal ini sering sulit dilakukan oleh madrasah yang proses pendiriannya kebanyakan hanya berbekal niat dan tekat.  Karena keterbatasan dana, banyak madrasah yang didirikan dengan tenaga guru seadanya tanpa melihat apakah mereka itu berkualitas atau tidak.  Ketika madrasah sudah berkembang dan kepercayaan masyarakat mulai tumbuh, yang berarti dana juga mulai tersedia, guru-guru 'cakupan' seperti itu lalu terasa merepotkan.  Akan diperhentikan terasa tidak etis karena dulu, semasa madrasah itu masih miskin, mereka lah yang dengan sabar menunggui madrasah itu; tetapi akan dipakai terus dapat merusak citra madrasah karena ketidak mampuan mereka dalam mengajar.  Untuk mengatasi hal ini, madrasah dapat mengirimkan guru tersebut ke penataran-penataran dan pelatihan=pelatihan tentang Proses Belajar Mengajar atau, kalau hal itu juga tidak menolong, memberi guru semacam itu pelajaran yang bukan mata uji ebtanas.


    Citra madrasah sebagai suatu sasaran yang harus dicapai juga dapat dimanfaatkan untuk mendorong semua fihak yang terlibat dai madrasah untuk meningkatkan layanan pendidikannya.  Baik buruknya citra suatu madrasah di mata masyarakat dapat diukur dengan banyak sedikitnya siswa yang mendaftar ke madrasah tersebut.  Semua fihak yang terlibat di madrasah (pengurus yayasan, pimpinan madrasah, guru, dan karyawan) harus sadar bahwa kualitas layanan yang mereka berikan kepada siswa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi banyak sedikitnya masyarakat yang tertarik untuk menyekolahkan anaknya ke madrasah itu dan itu berarti naik atau turunnya kesejahteraan mereka sendiri.


    Kendala utama bagi peningkatan kualitas madrasah adalah dana.  Hal ini disebabkan sebagaian besar madrasah masih menggantungkan hidupnya dari dana yang diperolehnya dari orang tua murid.  Jumlah siswa yang sedikit akan menyebabkan sedikitnya pula pemasukan dana ke madrasah.  Ini menyebabkan kurangnya dana untuk membayar gaji guru dan karyawan secara memadai.  Akibatnya, guru dan karyawan menjadi kurang bersemangat untuk bekerja dan menyebabkan turunnya kualitas pendidikan yang diberikan madrasah kepada siswa.  Kurangnya mutu layanan pendidikan ini menyebabkan masyarakat enggan memasukkan anaknya ke madrasah tersebut.  Dus, jadilah suatu lingkaran setan: untuk memperoleh dana yang cukup, madrasah perlu memperoleh siswa sebanyak mungkin.  Tetapi masyarakat, terutama golongan menengah ke atas, baru mau mengirim anaknya ke suatu madrasah kalau mereka yakin bahwa madrasah tersebut mempunyai kualitas yang baik.  Padahal, untuk menjadi berkualitas itu perlu dana yang tidak sedikit.
    Kita harus dapat memotong lingkaran setan ini.  Caranya, ya dengan menciptakan citra sebagai madrasah yang berkualitas di mata masyarakat.  Apabila dana terbatas sehingga tidak mungkin membangun gedung yang megah untuk menarik masyarakatm madrasah ybs. harus memikirkan kiat-kiat lain yang tidak banyak memerlukan dana: memberikan kesan berkualitas baik melalui prestasi siswa.  Misalnya, krpsls madrasah perlu memilih beberapa mata pelajaran untuk ebtanas untuk dipakai sebagai sarana promosi: misalnya matematika.  Beberapa siswa yang berbakat di bidang itu perlu diperhatikan dan dibina secara khusus dengan harapan beberapa di antara mereka dapat memperoleh nilai yang amat bagus di ebtanas.  Apabila ini benar-benar terjadi, maka peristiwa itu harus dimanfaatkan untuk promosi madrasah dengan cara menyebar luaskan berita itu ke masyarakat yang menjadi sasaran madrasah itu.   Pemberian pelajaran ketrampilan yang berguna seperti Kursus Percakapan Bahasa Inggris, teknik elektro, atau komputer dapat juga menarik peminat ke madrasah tersebut.
Penutup
    Demikianlah beberapa pokok pikiran yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar diskusi mengenai peningkatan mutu madrasah.  Madrasah menempati posisi yang strategis bagi penyiapan kader bangsa di masa depan karena dia Islami dan bergerak di bidang pendidikan dasar dan menengah.  Beberapa tantangan yang dihadapi madrasah telah dikemukakan: perubahan orientasi pendidikan ummat Islam, persaingan dengan sekolah negeri yang lebih murah, dan kenyataan rendahnya kualitas layanan pendidikan madrasah.  Beberapa saran untuk mengatasi kendala tersebut juga telah dikemukakan.  Khusus mengenai peningkatan mutu layanan pendidikan madrasah, disebutkan bahwa kuncinya adalah manajemen, suatu upaya untuk menggerakkan segala sumber daya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.


    iIni bisa dilakukan oleh pengurus yayasan dan pimpinan madrasah dengan atau tanpa melibatkan staf.
    iiSebagai contoh adalah GBHN, Repelita, dan APBN.
1

Last Updated on Tuesday, 08 December 2009 09:07